Senin, 23 Mei 2011

Proposal Penelitian DIRJEN PENDIS KEMENAG 2011

A. Judul Penelitian: AKTUALISASI AJARAN AGAMA DI TENGAH PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA: STUDI PANDANGAN HIDUP DAN AKTIVITAS KOMUNITAS PETANI DI ”KEDEWANAN” SILANGGE KECAMATAN DOLOK KABUPATEN PADANG LAWAS UTARA SUMATERA UTARA


B. Latar Belakang
Goorge C. Lictnberg dalam ungkapannya, “Saya tidak dapat memastikan bahwa perubahan akan memperbaiki sesuatu, tetapi saya dapat memastikan bahwa untuk menjadi lebih baik sesuatu harus berubah”. Seorang filsuf Yunani, Heracleitus, menyatakan bahwa “semua berubah, tidak satupun yang tetap (all is change, nothing is permanent). Sebagaimana diketahui bahwa perubahan itu selaras dengan ciri makhluk hidup (manusia) yaitu bergerak (action), karena jika tidak bergerak manusia akan digolongkan kepada makhluk mati yang tidak bernyawa. Bergerak itu dilakukan karena untuk mencapai tujuan yang diinginkan dan hal demikian adalah ingin melakukan suatu perubahan yang sebelumnya belum pernah ada untuk diadakan yang tentunya untuk menuju kehidupan yang “lebih”.
Beberapa sumber perubahan sosial yang berasal dari dalam masyarakat sendiri antara lain: 1) dinamika kependudukan, 2) penemuan-penemuan baru, 3) pertentangan dalam masyarakat, dan 4) pemberontakan dalam masyarakat. Penambahan dan pengurangan penduduk akan berakibat pada perubahan sosial. Laju pertumbuhan penduduk yang sangat cepat di Pulau Jawa misalnya, menyebabkan terjadinya perubahan dalam struktur dan pranata masyarakat. Sebelum pertumbuhan penduduk yang pesat, di Pulau Jawa tidak dikenal adanya sistem hak pemilikan tanah, gadai tanah, bagi hasil, dan sebagainya.
Penemuan baru yang diterapkan dan menyebar ke semua kawasan dan lapisan masyarakat dapat menimbulkan perubahan sosial. Sebagai contoh, penemuan berbagai sarana dan teknologi transportasi telah mengakibatkan pertumbuhan kawasan kehidupan pinggiran kota (sub-urban). Dengan sarana transportasi yang lancar, sekelompok masyarakat enggan untuk bertempat tinggal di pusat kota yang berdesakan. Pertentangan dalam masyarakat juga memungkinkan terjadinya perubahan sosial dan kebudayaan. Secara umum, masyarakat tradisional Indonesia memiliki sifat kolektif yang mementingkan kepentingan bersama daripada kepentingan individu. Sebagai contoh tentang pertentangan antara kepentingan yang mengakibatkan perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat Batak.
Selain itu, tidak jarang pertentangan antar generasi menimbulkan pemberontakan kaum muda terhadap kaum tua. Pemberontakan yang dimaksud lebih banyak terjadi berupa pemberontakan terhadap tata nilai lama yang dianggap kuno dan kurang ‘layak’ dipertahankan. Beberapa faktor luar yang juga merupakan sumber perubahan sosial adalah: 1) faktor alam, 2) faktor peperangan, dan 3) faktor kebudayaan masyarakat lain.
Salah satu aspek menarik yang dikemukakan oleh Mudjia Rahardjo, tetapi diakuinya tidak bisa terliput secara mendalam adalah perubahan sosial di tingkat nilai-nilai keagamaan. Kegiatan keagamaan makin semarak berdampingan dengan kegiatan lain yang esensinya sangat bertentangan, misalnya berjudi, minuman keras, dan sejenisnya.
Fenomena yang tersebut terakhir ini geliatnya sangat jelas terlihat di tengah-tengah masyarakat di Kedewanan Silangge Kecamatan Dolok Padang Lawas Utara Sumatera Utara. Pengamatan selintas ada keterkaitan yang jelas antara perubahan sosial yang terjadi dengan pengamalan ajaran agama di tengah-tengah masyarakat. Yang sangat menonjol terlihat adalah penurunan kuantitas pengamalan ajaran agama, seperti berkurangnya ”penghuni masjid”, berkurangnya nilai-nilai kebersamaan, seperti tolong-menolong, gotong royong, dan sebagainya, dan berkurangnya acara-acara seremonial keagamaan, seperti peringatan-peringatan hari-hari besar.
Di sisi lain belakangan banyak masyarakat yang akan dan telah pergi menunaikan ibadah haji, banyak orang tau memasukkan anak-anaknya untuk memasuki sekolah-sekolah yang berbasis agama Islam, baik pada tingkat yang rendah, seperti Taman Kanak-Kanak Al-Qur’an (TKA), Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA), maupun tingkat Tsanawiyah, Aliyah, bahkan pada tingkat perguruan Tinggi (terutama IAIN Sumatera Utara, IAIN Imam Bonjol, dan UIN Sulthan Syarif Kasim). Perbedaan lain yang cukup mencolok adalah tetap eksisnya perayaan hari-hari besar Islam (terutama peringatan Maulid dan Isra’ Mi’raj Nabi Saw.) bahkan untuk kalangan keluarga (rumah-rumah) tertentu sebagai penyelenggaranya, lembaga pendidikan yang berbasis agama Islam seperti TKA, MDA, dan MTs juga telah ada.
Dua keadaan yang bertolak belakang sebagaimana yang telah disebutkan di atas membuat orang-orang yang melihatnya akan merasa heran. Tetapi tentu saja akan menimbulkan pertanyaan. Apakah tarik-menarik antara perubahan sosial ke arah yang negatif dan munculnya spirit (semangat bagi sebagian orang) untuk menghempangnya sebagai upaya mengaktualkan ajaran agama di tengah-tengah masyarakat?
Gambaran aktualisasi ajaran agama Islam di tengah-tengah terpaan perubahan sosial yang tercermin dalam masyarakat petani di Kedewanan Silangge, Kecamatan Dolok, Kabupaten Padang Lawas Utara layak dikaji, karena selain lokasinya yang cukup jauh dari kota namun tetap rentan terhadap berbagai perubahan, juga pekerjaan atau profesi masyarakatnya yang tergolong homogen, yaitu petani karet.

C. Masalah Penelitian
Masalah umum penelitian ini adalah: ”Bagaimanakah kaitan antara aktualisasi ajaran agama di tengah perubahan sosial dengan pandangan hidup dan aktivitas pengamalan agama masyakat petani di Kedewanan Silangge Kecamatan Dolok Kabupaten Padang Lawas Utara Sumatera Utara?”.
Rinciannya adalah:
1. Bagaimana pandangan hidup masyarakat di tengah terjadinya perubahan sosial budaya?
2. Bagaimanakah aktivitas pengamalan agama masyarakat di tengah terjadinya perubahan sosial budaya?
3. Bagaimana upaya yang dilakukan dalam upaya aktualiasi ajaran agama dalam menghadapi terjadinya perubahan sosial budaya?
4. Bagaiamana pola relasi dan peranan tokoh-tokoh masyarakat/adat dan agama dalam upaya aktualisasi ajaran agama di tengah terjadinya perubahan sosial budaya?

D. Pembatasan Masalah
Dalam operasionalnya yang akan diteliti adalah hal-hal atau kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam upaya aktualisasi ajaran agama, misalnya pengajian/ceramah, perwiridan, peringatan-peringatan hari-hari besar Islam, dan kegiatan syi’ar Islam lainnya, dan pengamalan-pengamalan ajaran agama (baik mahdhah maupun ghairu mahdhah) yang dipraktekkan atau dilakoni masyarakat, seperti shalat berjamaah di mesjid, membaca Alqur’an, membantu orang lain (berzakat dan bersedekah), melaksanakan haji, dan aktivitas/praktek keagamaan lainnya yang teramati. Bertolak belakang dengan kedua hal tersebut, juga akan diamati atau digali informasinya tentang praktek-praktek keagamaan dan kemasyarakatan yang menyimpang, misalnya penyimpangan yang berkaitan dengan akidah seperti mempercayai suara-suara burung akan berimplikasi terhadap sesuatu, perdukunan, perjudian, meminum-minuman keras, dan sebagainya.

E. Signifikansi Penelitian
Penelitian ini perlu dilakukan dengan melihat kondisi masyarakat yang begitu cepat dan rentan terhadap perubahan. Masyarakat yang begitu homogen, baik dari segi agama dan budaya, serta cara mencari nafkah demikian cepatnya berubah. Masyarakat yang dulunya sibuk dengan berbagai aktivitas keagamaan seakan tergantikan dengan kemaksiatan, termasuk perjudian dan minum-minuman keras. Demikian juga, dahulunya masyarakat bahu-membahu atau bergotong-royong melaksanakan hajatan, tapi kini terlihat sepi dan hanya dibantu oleh keluarga-keluarga terdekat. Begitu pula pada saat mulai menanam padi di ladang atau sawah, mendirikan rumah, dan sebagainya dikerjakan secara bersama-sama, tapi kini kebersamaan itu tidak terlihat lagi. Di sisi lain, sebagian masyarakat aktif ke mesjid, mengajari anak-anak mengaji, memasukkan anak-anaknya ke sekolah agama, memperingati hari-hari besar Islam, dan melaksanakan ibadah haji. Dua fenomena ini sangat kontras dan bertolak belakang. Agaknya ada upaya tarik-menarik antara “ahli surga” dengan “ahli neraka”.

F. Kajian Riset Sebelumnya
Di antara riset yang telah dilakukan terkait dengan topik ini di antaranya adalah:
1. M. Wahyudin, Masjid dan Perubahan Sosial (Studi Masjid Jami’ Mentok Bangka terhadap Perubahan Sosial Keagamaan Masyarakat Mentok Bangka), Skripsi Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2006. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian kualitatif dengan pendekatan sosiologis ini adalah bahwa eksisetnsi masjid mempunyai peran sangat penting dalam masyarakat, terutama dalam menyongsong kehidupan sosial yang sekaligus merupakan pemicu perubahan sosial. Sehingga dalam berbagai dimensi kehidupan sosial baik sosiokultur, ekonomi, dan keagamaan mampu menjadi bagian yang tidak terpisahkan, terutama dalam kehidupan masyarakat desa Tanjung Mentok Bangka Barat. Masjid Jami’ ini merupakan pusat kegiatan keagamaan dan sosial kemasyarakatan. Masjid ini juga mengemban tugas untuk menanamkan dan menyampaikan ajaran-ajaran Islam dalam kehidupan masyarakat dengan cara memaksimalkan melalui aktivitas serta interaksi sosialnya dengan berbagai lapisan masyarakat, sehingga tercipta kondisi keberagamaan yang kondusif dan peka terhadap persoalan sosial sesuai ajaran-ajaran Islam.
2. Ani Juwita, Perilaku Sosial-Keagamaan Pada Masyarakat Multi Agama (Studi Kerukunan Beragama Pada Masyarakat Desa Sidomulyo, Kecamatan Selorejo Kabupaten Blitar), Skripsi FIS UM, 2008. Pencarian data kualitatif melalui observasi, wawancara dan dokumentasi ini memperoleh hasil bahwa proses munculnya kerukunan beragama di Desa Sidomulyo dimulai dari masuknya agama-agama yang tidak bersamaan. Tapi Islam telah ada yang kemungkinan pada saat mulai dibukanya wilayah desa ini, sedangkan agama-agama lain muncul paska tragedi G30 S, yaitu sekitar tahun 1965/1966, atau pemberontakan PKI. Sebelum terciptanya kerukunan diawali oleh pertentangan oleh tokoh-tokoh agama Islam terhadap masuknya agama dan kepercayaan lain. Tokoh-tokoh agama di Desa Sidomulyo lebih memilih musyawarah dalam menyelesaikan masalah maupun perselisihan antar agama. Di antara faktor yang mempengaruhi terbentuknya kerukunan di Desa Sidomulyo ini adalah munculnya kesadaran masyarakat Desa Sidomulyo akan pentingnya kerukunan menjadi landasan dalam hidup bermasyarakat dan peran pemerintah sebagai pemerintahan tertinggi di desa tersebut juga memberikan pengaruhnya, yaitu sebagai payung dan pelindung dari adanya tradisi dan budaya yang berkembang. Kerukunan yang tercipta di Desa Sidomulyo telah mampu membentuk sebuah tatanan kehidupan yang selalu dicita-citakan oleh masyarakat multikultur.

G. Kerangka Teori
Pengelompokkan teori perubahan sosial telah dilakukan oleh Strasser dan Randall. Perubahan sosial dapat dilihat dari empat teori, yaitu teori kemunculan diktator dan demokrasi, teori perilaku kolektif, teori inkonsistensi status dan analisis organisasi sebagai subsistem sosial.
Penelitian ini akan menggunakan teori perilaku kolektif, yakni mencoba menjelaskan tentang kemunculan aksi sosial. Aksi sosial merupakan sebuah gejala aksi bersama yang ditujukan untuk merubah norma dan nilai dalam jangka waktu yang panjang. Pada sistem sosial seringkali dijumpai ketegangan baik dari dalam atau luar sistem. Ketegangan ini dapat berwujud konflik status sebagai hasil dari diferensiasi struktur sosial yang ada. Teori ini melihat ketegangan sebagai variabel antara yang menghubungkan antara hubungan antarindividu seperti peran dan struktur organisasi dengan perubahan sosial. Perubahan pola hubungan antarindividu menyebabkan adanya ketegangan sosial berupa kompetisi atau konflik bahkan kekerasan. Kompetisi atau konflik inilah yang mengakibatkan adanya perubahan melalui aksi sosial bersama untuk merubah norma dan nilai.
H. Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan fenomenologi. Metode fenomenologi ini disebut oleh Max Weber sebagaimana “metode verstehende , yang menitikberatkan pada “kemengertian” atau “kepahaman” (verstehen) terhadap obyek dilihat dari obyek itu sendiri. Tentu saja untuk memiliki pengertian atau pemahaman seutuhnya terhadap obyek seharusnya peneliti harus berada di lokasi dan mengikuti obyek penelitian dalam setiap keadaannya. Tetapi peneliti tidak sepenuhnya berada di lokasi penelitian, hal ini tentu karena jarak tempat tinggal peneliti dengan lokasi penelitian sangat jauh (ditempuh sekitar 10 jam perjalanan menggunakan kenderaan umum; kereta api atau mobil). Peneliti akan melakukan serangkaian wawancara dalam kurun waktu yang ditentukan, di samping melakukan observasi pada momen-momen tertentu.
Target penelitian ini ialah mendeskripsikan aktualisasi ajaran agama Islam khususnya yang termasuk ke dalam bidang pandangan hidup masyarakat dan aktivitasnya di tengah-tengah perubahan sosial budaya masyarakat petani di Kedewanan Silangge Kecamatan Dolok Kabupaten Padang Lawas Utara Sumatera Utara.
Lokasi penelitian ini berada di Kedewanan Silangge yang terdiri dari 4 (empat) desa Janji Manahan Pekan, desa Simatorkis/Batanggarut, desa Bahab, dan desa Silangge sebagai desa pengambilan nama kedewanan itu sendiri.
Sesuai dengan jenis dan sumber data, teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara: (1) wawancara informal (indepth interview) kepada para informan kunci. Informan kunci dalam penelitian ini ada 5 (lima) orang yang menurut informasi awal merekalah yang paling mengetahui sejarah kelahiran dan perkembangan Kedewanan Silangge. Mereka adalah 1) H. Daulat Rambe, umur 61 tahun, tokoh masyarakat yang tinggal di desa Bahab; 2) Baginda Sijuangon, umur 59 tahun, tokoh masyarakat yang tinggal di desa Simatorkis/Batanggarut; 3) Marasat Ritonga, umur 58 tahun, tokoh masyarakat yang tinggal di desa Simatrokis/Batanggarut; 4) Borsa, umur 58 tahun, mantan kepala desa Janji Manahan Pekan yang tinggal di desa Janji Manahan Pekan; dan 5) Dahlan Ritonga, umur 57 tahun, tokoh masyarakat yang tinggal di desa Simatorkis/Batanggarut. Dari kelima tokoh ini akan dikembangkan lebih lanjut sesuai petunjuk mereka dan kebutuhan di lapangan; (2) observasi terlibat dan tak terlibat dilakukan terhadap peristiwa dan tingkah laku informan/sumber data; (3) kajian dokumen tertulis (content analysis) ditempuh membaca dokumen tersebut serta mencatat dalam displai data hal-hal yang sesuai dengan tema penelitian, (4) kajian dokumen nontertulis (foto, rekaman, dan sebagainya) dengan diakukan dengan cara observasi simak, (5) observasi artefak dengan cara mengamati artefak-artefak yang ada seperti peninggalan-peninggalan sejarah yang dianggap relevan dan mendukung, seperti makam atau kuburan warga yang paling tua, rumah yang paling tua, hutan yang paling tua, dan sebagainya; dan (6) jika memungkinkan akan dilakukan observasi peristiwa, yakni mengamati peristiwa yang berkaitan dengan penelitian.
Dalam penelitian ini validitas data diuji dengan menggunakan trianggulasi data, yakni peneliti menggunakan beberapa sumber data untuk mendapatkan data yang sejenis, sehingga didapat pemahaman lintas data yang menyeluruh.
Model yang digunakan dalam analisis data ini mengambil model analisis interaktif, yakni ketiga komponen analisis data saling berinteraksi selama proses penelitian. Analisis ini dengan demikian dilakukan di lapangan dan dicatat dalam fieldnote-fieldnote untuk selanjutnya hasilnya digunakan dalam penyusunan laporan penelitian final.

I. Sumber Bacaan/Referensi

Deddy Mulyana, Metodologi Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2001).

J. D. Douglas, Introduction to Sociology: Situations and Structures (New York: The Free Press, 1981).

Hendropuspito, Sosiologi Sistematik (Yogyakarta: Kanisius, 1989).

H. Strasser and S.C. Randall, An Introdustion to Theories of Social Change (London: Routledge & Kegan Paul, 1981).

Kuntowijoyo, Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris Madura (Yogyakarta: Mata Bangsa, 2002).

Lexi J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1988).

Mudjia Rahardjo, Sosiologi Pedesaan: Studi Perubahan Sosial (Malang: UIN-Malang Press, 2007).

Niel Mulder, Kebatinan dan Hidup Sehari-hari Orang Jawa: Kelangsungan dan Perubahan Kulturil (Jakarta: PT Gramedia, 1984).

Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar (Jakarta: Grafindo, 1982).

T.O. Ihromi, Bunga Rampai Sosiologi Keluarga (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1999).

W. Kornblum, Sociology in Changing World (New York: Rinchart Holt and Winston, 1988).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar