Kamis, 17 Juni 2010

Aksiologi Kamunikasi Pembangunan (Ibrahim)

AKSIOLOGI KOMUNIKASI PEMBANGUNAN ISLAM:
SUATU TINJAUAN
Oleh: Drs. Ibrahim Margolang


Pendahuluan
Di dalam Islam satu hal yang harus diyakini kebenarannya adalah bahwa segala sesuatu diciptakan dengan nilai dan fungsinya masing-masing. Semua hal, apa pun itu, memiliki peranannya masing-masing, bernilai guna. Tidak ada satupun yang diciptakan oleh Yang Maha Pencipta, Allah Swt. untuk hal yang sia-sia. Oleh karena itu, pada tahap ini segala sesuatu menjadi ”tidak netral”, semua mengambil perannya masing-masing.
Firman Allah Swt.

Artinya:
“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Q.S. Ali ‘Imran/3, ayat 191).
Sejalan dengan hal tersebut, ternyata dalam kajian kelimuan, salah satu yang menjadi pembangunan kerangka keilmuan (body of knowledge) adalah “aksiologi”. Konsep ini secara umum dapat disebut sebagai kajian tentang nilai guna dari sesuatu ilmu. Jika kajian ontologi dan epistemologi berbicara tentang apa yang dikaji dan bagaimana mengkajinya, maka aksiologi membahas tentang nilai guna kajian tersebut, untuk apa sesuatu itu ada.
Penulis akan melakukan tinjauan terhadap ”Aksilogi Komunikasi Pembangunan Islam” dengan menitikberatkan pembahasan pada pengertian aksiologi dan komunikasi pembangunan, serta nilai guna atau tujuan dan fungsi komunikasi pembangunan menurut perspektif Islam.

Pengertian
1. Aksiologi
Berbicara mengenai aksiologi berarti membicarakan tentang “nilai”. Aksiologi adalah asas mengenai cara bagaimana menggunakan ilmu pengetahuan yang secara epistemologis diperoleh dan disusun itu. Dengan demikian, tanggung jawab ilmiah (intelektual) adalah sejauh mana ilmu pengetahuan melalui pendekatan, metode dan sistem yang dipergunakan itu mampu memperoleh kebenaran obyektif, baik secara koheren-idealistik, koresponden-realistik maupun secara pragmatik-empirik. Jadi, berdasarkan tanggung jawab ini, ilmu pengetahuan tidak dibenarkan untuk mengajarkan kebohongan, mengembangkan penelitian-penelitian semu dan bersikap saling menutup diri atau tidak terbuka bagi adanya kritik. Sedangkan tanggung jawab moral adalah—dengan berpangkal pokok bahwa ilmu pengetahuan adalah dari, oleh dan untuk manusia—untuk mengetahuai sejauh mana kebenaran obyektif itu dapat dimanfaatkan bagi kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia. Sejalan dengannya, menurut Dr. Mahdi Ghulsyani, ada beberapa alasan perlunya mempelajari ilmu-ilmu lain, selain ilmu-ilmu agama, yaitu:
Jika dengan ilmu itu diharapkan mencapai tujuan-tujuan Islam, maka mencarinya merupakan suatu kewajiban. Kewajiban di sini tentu saja bukan wajib ‘ain, tetapi wajib kifayah. Misalnya tentang ilmu kesehatan dan obat-obatan.
Alquran menghendaki kaum Muslimin tidak tergantung kepada orang-orang kafir, oleh karena itu ia harus mememiliki kemerdekaan kulturan, politik, dan ekonomi (QS 4: 141). Dengan demikian, kaum Muslimin harus memiliki pengetahuan dan keterampilan di bidang tersebut (QS 8: 60).
Alquran menyuruh manusia mempelajari dan merenungkan penciptaan, kejadian, hubungan kausalitas, kondisi-kondisi, dan tanda-tanda alam semesta (QS 50: 6-8; 88: 17-20; 29: 20; 51: 20-21; 3: 190-191; 2: 164; 20: 50, 53; 71: 5-20; 35: 27-28; 29: 43; 29: 49; 67: 3-4; 41: 53).
Alasan lain untuk mempelajari fenomena-fenomena alam dan skema penciptaan adalah bahwa ilmu tentang hukum-hukum alam dan karakteristik-karakteristik benda-benda serta organisme-organisme dapat berguna bagi perbaikan kondisi hidup manusia (QS 16: 12-16; 31: 20; 45: 13; 43: 12-13; 6: 165; 2: 31).
Setiap ilmu yang didapatkan hendaklah bermuara kepada tujuan eksistensi manusia itu sendiri. Allah swt. menjelaskan bahwa tujuan penciptaan atau eksistensi manusia di muka ini adalah untuk mengabdi kepada-Nya (QS 51: 56; 98: 5), oleh karena itu semua urusan harus dikembalikan kepada-Nya juga (QS 42: 53). Demikianlah halnya dengan perolehan ilmu pengetahuan, suatu ilmu akan dikatakan berguna apabila dijadikan sebagai alat untuk mendapatkan pengetahuan tentang Allah, keridhaan dan kedekatan kepada-Nya. Jika tidak ilmu itu sendiri akan menjadi penghalang yang besar untuk pencapaian tujuan tersebut.
Berkaitan dengan pernyataan-pernyataan di atas, Ghulsyani mengemukakan beberapa hal yang harus diperhatikan agar ilmu memiliki kriteria yang berguna, yaitu:
1. Ilmu itu harus dapat meningkatkan pengetahuannya akan Allah.
2. Ilmu itu harus secara efektif dapat membantu mengembangkan masyarakat Islam dan merealisasikan tujuan-tujuannya.
3. Ilmu yang dimiliki seseorang itu harus dapat membimbing orang lain.
4. Ilmu itu harus dapat memecahkan berbagai problem masyarakat manusia.
Sayyid Quthb ketika menafsirkan QS 35: 16 mengatakan bahwa ayat ini tidak mengemukakan secara spesifik menunjuk bentuk atau pokok masalah ilmu tertentu, tetapi ia bersifat umum. Dengan demikian, semua bentuk ilmu dianggap pemberian Allah, dan seorang manusia terdidik harus menyadari asal ilmunya dan menghadapkan wajahnya kepada Allah untuk bersyukur. Ilmu itu harus digunakan untuk meraih ridha Allah. Oleh karena itu, ilmu tak boleh menghalangi hubungan manusia dan Allah, karena Dia-lah yang memberinya. Ilmu yang memisahkan hati manusia dan Allah, tidak berarti apa-apa kecuali penyimpangan dan penyelewengan dari asalnya dan akan melupakan tujuannya. Dia tidak akan membawa kebahagiaan baik kepada pemiliknya maupun kepada orang lain, dan hanya menjadi sebab kekejaman, ketakutan, kecemasan dan kehancuran, karena ia telah tersesat arah, hilang arah, dan kehilangan jalannya menuju Allah.

2. Komunikasi Pembangunan
Komunikasi dan pembangunan merupakan dua hal yang saling berhubungan sangat erat. Kedudukan komunikasi dalam konteks pembangunan adalah “as an integral part of development, and communication as a set of variables instrumental in bringing about development“. Siebert, Peterson dan Schramm (1956) menyatakan bahwa dalam mempelajari sistem komunikasi manusia, seseorang harus memperhatikan beberapa kepercayaan dan asumsi dasar yang dianut suatu masyarakat tentang asal usul manusia, masyarakat dan negara.
Strategi pembangunan menentukan strategi komunikasi, maka makna komunikasi pembangunan pun bergantung pada modal atau paradigma pembangunan yang dipilih oleh suatu negara. Peranan komunikasi pembangunan telah banyak dibicarakan oleh para ahli, pada umumnya mereka sepakat bahwa komunikasi mempunyai andil penting dalam pembangunan. Everett M. Rogers (1985) menyatakan bahwa, secara sederhana pembangunan adalah perubahan yang berguna menuju suatu sistem sosial dan ekonomi yang diputuskan sebagai kehendak dari suatu bangsa. Pada bagian lain Rogers menyatakan bahwa komunikasi merupakan dasar dari perubahan sosial.
Perubahan yang dikehendaki dalam pembangunan tentunya perubahan ke arah yang lebih baik atau lebih maju keadaan sebelumnya. Oleh karena itu peranan komunikasi dalam pembangunan harus dikaitkan dengan arah perubahan tersebut. Artinya kegiatan komunikasi harus mampu mengantisipasi gerak pembangunan.
Dikatakan bahwa pembangunan adalah merupakan proses, yang penekanannya pada keselarasan antara aspek kemajuan lahiriah dan kepuasan batiniah. Jika dilihat dari segi ilmu komunikasi yang juga mempelajari masalah proses, yaitu proses penyampaian pesan seseorang kepada orang lain untuk merubah sikap, pendapat dan perilakunya. Dengan demikian pembangunan pada dasarnya melibatkan minimal tiga komponen, yakni komunikator pembangunan, bisa aparat pemerintah ataupun masyarakat, pesan pembangunan yang berisi ide-ide atau pun program-program pembangunan, dan komunikan pembangunan, yaitu masyarakat luas, baik penduduk desa atau kota yang menjadi sasaran pembangunan.
Konsep komunikasi pembangunan dapat dilihat dalam arti luas dan arti sempit, yaitu:
Dalam arti luas, komunikasi pembangunan meliputi peran dan fungsi komunikasi (sebagai suatu aktivitas pertukaran pesan secara timbal balik) di antara semua pihak yang terlibat dalam usaha pembangunan; terutama antara masyarakat dengan pemerintah, sejak dari proses perencanaan, kemudian pelaksanaan, dan penilaian terhadap pembangunan.
Dalam arti sempit, komunikasi pembangunan merupakan segala upaya dan cara, serta teknik penyampaian gagasan, dan keterampilan-keterampilan pembangunan yang berasal dari pihak yang memprakarsai pembangunan dan ditujukan kepada masyarakat luas. Kegiatan tersebut bertujuan agar masyarakat yang dituju dapat memahami, menerima, dan berpartisipasi dalam melaksanakan gagasan-gagasan yang disampaikan.
Dalam pembangunan, komunikasi ialah proses yang memungkinkan komponen-komponen suatu sistem sosial atau sistem itu sendiri memperoleh dan bertukar informasi yang dibutuhkan pihak lain. Sistem sosial itu memerlukan berbagai macam informasi untuk menyesuaikan diri dan menjaga keseimbangan dengan lingkungannya yang mungkin berubah setiap saat. Penyesuaian diri sistem sosial tersebut dengan lingkungannya yang telah berubah itu yang biasanya.
Kedua pengertian tadi merupakan acuan dari konsep komunikasi pembangunan pada umumnya. Sedangkan konsep komunikasi pembangunan khas Indonesia dapat didefinisikan sebagi berikut :
“ Komunikasi pembangunan adalah proses penyebaran pesan oleh seseorang atau sekelompok orang kepada khalayak guna mengubah sikap, pendapat, dan perilakunya dalam rangka meningkatkan kemajuan lahiriah dan kepuasan batiniah, yang dalam keselarasannya dirasakan secara merata oleh seluruh rakyat”.
Agar komunikasi pembangunan lebih berhasil mencapai sasarannya, serta dapat menghindarkan kemungkinan efek-efek yang tidak diinginkan. Kesenjangan efek ditimbulkan oleh kekeliruan cara-cara komunikasi, hal ini bisa diperkecil bila memakai strategi komunikasi pembangunan yang dirumuskan sedemikian rupa, yang mencakup prinsip-prinsip berikut:
a. Pengunaan pesan yang dirancang secara khusus (tailored message) untuk khalayak yang spesifik.
b. Pendekatan “ceiling effect” yaitu dengan mengkomunikasikan pesan-pesan yang bagi golongan yang dituju (katakanlah golongan atas) merupakan redudansi (tidak lagi begitu berguna karena sudah dilampaui mereka atau kecil manfaatnya, namun tetap berfaedah bagi golongan khalayak yang hendak dicapai.
c. Penggunaan pendekatan “narrow casting” atau melokalisir penyampaian pesan bagi kepentingan khalayak .
d. Pemanfaatan saluran tradisional, yaitu berbagai bentuk pertunjukkan rakyat yang sejak lama berfungsi sebagai saluran pesan yang akrab dengan masyarakat setempat.
e. Pengenalan para pemimpin opini di kalangan lapisan masyarakat yang berkekurangan (disadvantage), dan meminta bantuan mereka untuk menolong mengkomunikasikan pesan-pesan pembangunan.
f. Mengaktifkan keikutsertaan agen-agen perubahan yang berasal dari kalangan masyarakat sendiri sebagai petugas lembaga pembangunan yang beroperasi di kalangan rekan sejawat mereka sendiri.
g. Diciptakan dan dibina cara-cara atau mekanisme keikutsertaan khalayak (sebagai pelaku-pelaku pembangunan itu sendiri) dalam proses pembangunan, yaitu sejak tahap perencanaan sampai evaluasinya.

Peran Komunikasi Pembangunan
Sebagaimana dikutip Zulkarimen Nasution dari pendapat Hedebro memuat 12 peran yang dapat dilakukan komunikasi dalam pembangunan, yakni:
1. Komunikasi dapat menciptakan iklim bagi perubahan dengan membujukkan nilai-nilai, sikap mental, dan bentuk perilaku yang menunjang modernisasi.
2. Komunikasi dapat mengajarkan skill-skil baru, mulai dari baca-tulis ke pertanian, hingga ke keberhasilan lingkungan, hingga reparasi mobil.
3. Media massa dapat bertindak sebagai pengganda sumber-sumber daya pengetahuan.
4. Media massa dapat mengantarkan pengalaman-pengalaman yang seolah-olah dialami sendiri, sehingga mengurangi biaya psikis dan ekonomis untuk menciptakan kepribadian yang mobile.
5. Komunikasi dapat meningkatkan aspirasi yang merupakan perangsang untuk bertindak nyata.
6. Komunikasi dapat membantu masyarakat menemukan norma-norma baru dan keharmonisan dari masa transisi.
7. Komunikasi dapat membuat orang lebih condong untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan di tengah kehidupan masyarakat.
8. Komunikasi dapat mengubah struktur kekuasaan pada masyarakat yang bercirikan tradisional, dengan membawa pengetahuan kepada massa. Mereka yang beroleh informasi akan menjadi orang yang berarti, dan para pemimpin tradisional akan tertantang oleh kenyataan bahwa ada orang-orang lain yang juga mempunyai kelebihan dalam hal memiliki informasi.
9. Komunikasi dapat menciptakan rasa kebangsaan sebagai sesuatu yang mengatasi kesetiaan-kesetiaan lokal.
10. Komunikasi dapat membantu mayoritas populasi menyadari pentingnya arti mereka sebagai warga negara, sehingga dapat membantu meningkatkan aktivitas politik.
11. Komunikasi memudahkan perencanaan dan implementasi program-program pembangunan yang berkaitan dengan kebutuhan penduduk.
12. Komunikasi dapat membuat pembangunan ekonomi, sosial, dan politik menjadi suatu proses yang berlangsung sendiri (self-perpetuating).
Untuk mewujudkan peran komunikasi pembangunan sebagaimana di atas, diperlukan strategi atau planned multimedia strategy. Onong Uchjana Effendy mengatakan strategi baik secara makro (planned multimedia strategy) mempunyai fungsi ganda yaitu:
1. Menyebarluaskan pesan komunikasi yang bersifat informatif, persuasif, dan instruktif secara sistematik kepada sasaran untuk memperoleh hasil yang optimal.
2. Menjembatani ”cultural gap” akibat kemudahan diperolehnya dan kemudahan dioperasionalkannya media massa yang begitu ampuh, yang jika dibiarkan akan merusak nilai-nilai budaya.
Strategi pada hakekatnya adalah perencanaan (planning) dan manajemen untuk mencapai suatu tujuan. Tetapi untuk mencapai tujuan tersebut, strategi tidak berfungsi sebagai peta jalan yang menunjukkan arah saja, melainkan harus menunjukkan bagaimana taktik operasionalnya. Dengan demikian strategi komunikasi merupakan paduan dari perencanaan komunikasi (communication management) untuk mencapai suatu tujuan. Untuk mencapai tujuan tersebut strategi komunikasi harus dapat menunjukkan bagaimana operasionalnya secara taktis harus dilakukan, dalam arti bahwa pendekatan (approach) bisa berbeda tergantung pada situasi dan kondisi.
Setiap strategi dalam bidang apa pun harus didukung oleh teori, demikian juga dalam strategi komunikasi. Teori merupakan pengetahuan yang didasarkan pada pengalaman yang telah diuji kebenarannya. Untuk strategi komunikasi, teori yang barangkali tepat untuk dijadikan sebagai ”pisau analisis” adalah paradigma yang dikemukakan oleh Harold D. Lasswell.
Untuk mantapnya strategi komunikasi, maka segalanya harus dipertautkan dengan komponen-komponen yang merupakan jawaban terhadap pertanyaan yang dirumuskan, yaitu who says what in which channel to whom with what effect.
Dalam strategi komunikasi peranan komunikator sangatlah penting. Dalam hal ini ada beberapa aspek yang harus diperhatikan. Para ahli komunikasi cenderung sependapat bahwa dalam melancarkan komunikasi lebih baik mempergunakan pendekatan yang disebut A-A Procedure atau from Attention to Action Procedure. A-A Procedure adalah penyederhanaan dari suatu proses yang disingkat AIDDA (Attention, Interest, Desire, Decision, Action). Jadi proses perubahan sebagai efek komunikasi melalui tahapan yang dimulai dengan membangkitkan perhatian.
Apabila perhatian komunikan telah terbangkitkan, hendaknya disusul dengan upaya menumbuhkan minat, yang merupakan derajat yang lebih tinggi dari perhatian. Minat adalah kelanjutan dari perhatian yang merupakan titik tolak bagi timbulnya hasrat untuk melakukan suatu kegiatan yang diharapkan komunikator. Hanya ada hasrat saja pada diri komunikan, bagi komunikator belum berarti apa-apa sebab harus dilanjutkan dengan datangnya keputusan, yakni keputusan untuk melakukan tindakan.
Dalam karyanya, Schramm (1964) merumuskan tugas pokok komunikasi dalam suatu perubahan sosial dalam rangka pembangunan nasional, yaitu : 1) menyampaikan kepada masyarakat, informasi tentang pembangunan nasional, agar mereka memusatkan perhatian pada kebutuhan akan perubahan, kesempatan dan cara mengadakan perubahan, sarana-sarana perubahan, dan membangkitkan aspirasi nasional; 2) memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengambil bagian secara aktif dalam proses pembuatan keputusan, memperluas dialog agar melibatkan semua pihak yang membuat keputusan mengenai perubahan, memberi kesempatan kepada para pemimpin masyarakat untuk memimpin dan mendengarkan pendapat rakyat kecil, dan menciptakan arus informasi yang berjalan lancar dari bawah ke atas; 3) mendidik tenaga kerja yang diperlukan pembangunan, sejak orang dewasa, hingga anak-anak, sejak pelajaran baca tulis, hingga keterampilan teknis yang mengubah hidup masyarakat.
Gambaran pemikiran Schramm mengenai peranan komunikasi dalam pembangunan sebagai berikut :
• Untuk meningkatkan kehidupan masyarakat perlu pembangunan
• Pembangunan memerlukan keaktifan masyarakat.
• Supaya Masyarakat berpartisipasi
• Pembangunan di informasikan
• Perlu Sarana Informasi
• Perlu pembangunan komunikasi
Konsep komunikasi pembangunan sangat membuka peluang untuk mendorong komunikasi intensif melalui dialog dengan kelompok-kelompok strategis dalam rangka membangun kemitraan untuk mempengaruhi kebijakan publik sebelum diputuskan. Berbagai kelompok yang perlu dilibatkan dalam kemitraan antara lain Perguruan Tinggi, LSM, pers dan berbagai elemen pendukung pembangunan lainnya. Agar komunikasi pembangunan berjalan dengan efektif, maka diperlukan suatu pusat komunikasi yang menjadi rujukan dari pelaku-pelaku pembangunan maupun pihak-pihak yang berkompeten dalam penyelenggaraan pembangunan untuk memperoleh informasi dan koordinasi pembangunan secara terpadu.
Bagi Islam, pembangunan mestilah berdasarkan al-Quran dan al-Sunnah sebagai sumber dari segala sumber inspirasi dan perilaku manusia. Pembangunan haruslah dilihat secara lebih komperehensif baik pembangunan yang bersifat fisik, terlebih-lebih pembangunan mental atau rohaniah umat Islam atau manusia secara menyeluruh. Islam datang untuk membawa rahmat bagi sekalian alam.
Bagi pembangunan harus dimulai dari pembangunan umat manusia yang menjadi tonggak kepada pembangunan diri, keluarga, material, rohani, masyarakat, ilmu, akhlak dan negara. Tujuan utama pembangunan insan (manusia) adalah untuk mencapai al-Falah (kejayaan, kemenangan, kesejahteraan) di dunia dan di akhirat. Kejayaan ini dimanifestasikan dalam pendidikan, pembentukan diri, keluarga dan masyarakat bertaqwa yang menjurus ke arah keridhaan Allah Swt. (mardatillah). Oleh karena itu, tuntutan-tuntutan dalam konsep menyuruh berbuat kebaikan dan mencegah dari kemungkaran mestilah diaplikasikan dalam segenap aspek kehidupan demi untuk mencapai tujuan tadi. Sebenarnya prasyarat untuk menuju al-Falah mestilah disertai dengan sikap proaktif, berdaya tahan, disiplin, beradab, berakhlak dan memilik motivasi yang tinggi. Ini akan melahirkan generasi yang tahan uji dan mempunyai jati diri menghadapi kehidupan dalam era globalisasi ini.
Pembangunan insan yang bercirikan holistik (menyeluruh) adalah pembangunan yang menseimbangkan material dan spiritual dan juga mental. Ini akan melahirkan pribadi yang sadar akan tanggungjawab duniawi dan ukhrawinya. Pembangunan insan mestilah meletakkan pembangunan akhlak dan pembinaan pribadi Muslim sebagai agenda utama. Peranannya bukan hanya terletak di bahu ulama, ustadz, da’i, muballigh atau golongan tertentu saja melainkan haruslah dimainkan secara aktif oleh setiap individu, keluarga, masyarakat dan bahkan negara. Kepentingan pembangunan emosi, intelektual, ekonomi dan jasmani janganlah pula diabaikan. Ringkasnya, kualitas insan dalam aspek-aspek ini perlu ditingkatkan untuk melahirkan masyarakat yang sejahtera hidupnya di dunia dan akhirat. Suasana yang kondusif diperlukan untuk melahirkan insan yang shaleh dan berkualitas.

Penutup
Konsep pembangunan dalam Islam bersifat menyeluruh. Berbeda dengan konsep-konsep pembangunan lain yang lebih mengarah pada pengertian fisik dan materi, tujuan pembangunan dalam Islam lebih dari itu. Bagi Islam pembangunan yang dilakukan oleh manusia seharusnya hanya mengejar satu tujuan utama, yaitu: kesejahteraan ummah. Oleh karenanya, konsep pembangunan dalam Islam dapat dikatakan sebagai usaha pembangunan oleh seluruh lapisan masyarakat untuk mewujudkan adanya manusia seutuhnya.
Paling tidak empat landasan yang mendasari pemikiran mengenai konsep pembangunan menurut Islam yaitu: a) Tauhid (keesaan dan kedaulatan Allah s.w.t.) Ajaran ini merupakan landasan dari aturan aturan tentang hubungan Allah dengan manusia dan hubungan manusia dengan sesamanya; b) Rububyyah (ketentuan-ketentuan Allah s.w.t.. tentang rizki, rachmat dan petunjuk-Nya untuk menyempurnakan segala pemberian-Nya itu). Ajaran ini merupakan ketentuan Allah s.w.t. mengenai alam semesta, pemanfaatan dan pengembangan sumber-sumber didalamnya untuk kesejahteraan dan kelestarian kehidupan bersama; c) Khilafah (fungsi manusia sebagai khalifah Allah dimuka bumi). Ajaran ini menetapkan kedudukan dan peranan manusia, baik sebagai individu maupun anggota masyarakat, sebagai pengemban jabatan khilafah itu. Disini kelebihan konsep pembangunan Islam dari konsep-konsep lainnya, dengan mendudukkan peranan manusia pada tempat yang tinggi dan terhormat, tetapi sangat bertanggung jawab; dan d) Tazkiyah (penyucian dan pengembangan). Tugas yang dibebankan kepundak para rasul Allah adalah melakukan tazkiyah (penyucian) manusia dalam segala hubungan dan pergaulannya dengan Allah, dengan manusia sesamanya, dengan lingkungan alamnya, dan dengan masyarakat serta bangsa dan negaranya.
Pesan-pesan nilai, peran,dan fungsi pembangunan di atas haruslah dikomunikasikan secara baik dan benar, agar bisa mencapai sasaran yang tepat pula. Di sinilah peran komunikasi. Inilah tinjauan umum aksiologi komunikasi pembangunan dalam perspektif Islam.

Referensi
Risieri Frondizi, Pengantar Filsafat Nilai (terj.) Cuk Ananta Wijaya (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), h. 1.
Onong Uchjana Effendy, Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2000), h. 326.
Suparlan Suhartono, Dasar-Dasar Filsafat (Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2004), h., h. 158.
Mahdi Ghulsyani, Filsafat Sains Menurut Al-Quran (terj.) Agus Effendi (Bandung: Mizan, 1998), h. 49-53.
Ghulsyani, Filsafat Sains, h. 55-56.
Sayyid Quthb, Fī Zilāl al-Qur`an, Jilid VI, h. 262-263.
Mukti Sitompul, Konsep-Konsep Komunikasi Pembangunan (Medan: Fisip USU, 2002), h. 5
Zulkarimen Nasution, Komunikasi Pembangunan (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2004:163-164).
Ibid, h. 102-103.
Onong Uchjana Effendy, Komunikasi dan Modernisasi (Bandung: Alumni, 1987), h. 25.
Sitompul, Konsep-Konsep, h. 10.
Gumilar, Gumgum. Peranan Komunikasi Dalam Pembangunan dalam www.gumilarcenter.com
Pernyataan tentang tujuan pembangunan dalam Islam adalah al-falah dikemukakan oleh Dr. Amini Amir Abdullah, dari Pusat Islam, Universiti Putra Malaysia sebagaimana dikutip dari http://www.pic.upm.edu.my/artk/pimpih.pdf

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar