Kamis, 17 Juni 2010

Ekletisme Ilmu Komunikasi Islam

Relevansi Ilmu Komunikasi Islam dengan Ilmu-ilmu Lain
Oleh: Hasnun Jauhari Ritonga

Di Indonesia, ilmu komunikasi diperoleh melalui Keputusan Presiden (Keppres) No. 107/82 Tahun 1982. Keppres ini membawa penyeragaman nama dari ilmu yang dikembangkan di Indonesia, termasuk komunikasi. Sebelumnya, di Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung dan Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta komunikasi disebut sebagai “publisistik”. Di Universitas Indonesia (UI) telah lama diganti dari publisistik menjadi “Ilmu Komunikasi Massa”.
Tokoh-tokoh yang mengembangkan ilmu komunikasi di Indonesia di antaranya Drs. Marbangun, Sundoro, Prof. Sujono Hadinoto, Adinegoro, dan Prof. Drs. Mustofo. Dan pada tahun 1960-an muncul tokoh lain seperti Dr. Phil. Astrid S. Susanto alumni dari Jerman Barat (1964) dan Dr. M. Alwi Dahlan alumni dari Amerika Serikat (1967).
Sejak awal hingga kini, perkembangan ilmu komunikasi banyak dipengaruhi oleh ilmu-ilmu lain. Misalnya dapat ditelusuri latar belakang tokoh-tokoh yang mengembangkannya, terutama di Amerika Serikat. Harold D. Laswell berlatar belakang ilmu politik; Max Weber, Daniel Lerner, Everatt M. Rogers berlatar belakang sosiologi; Carl I. Hovland, Paul Lazarfeld berlatar belakang psikologi; Shannon dan Weaver berlatar belakang matematika dan teknik; sedangkan Wilbur Schramm berlatar belakang bahasa (linguistic). Berdasarkan keragaman ilmu-ilmu lain yang membangun kerangka keilmuan komunikasi itu menampakkan ilmu ini sangat eklektif. Wilbur Schramm mengibaratkannya sebagai kota purba yang bernama Babelh Dehre, di mana para musafir lewat, mampir dan kemudian meneruskan perjalanan. Bekas persinggahan para musafir itu nampak dalam keluasan ilmu komunikasi. Schramm menyebutkan: “ilmu komunikasi bagaikan jalan simpang paling ramai dengan segala disiplin yang melintasinya”.
Ekletisme komunikasi terlihat dengan konsep-konsep yang berkembang, sebagaimana disederhanakan B. Aubrey Fisher (1978) yang menjadikan komunikasi ke dalam 4 (empat) paradigma (perspektif atau teori), yaitu perspektif mekanistis, psikologis, interaksional, dan pragmatis. Hal ini pun menjadikan ilmu komunikasi tetap bisa digabungkan atau “dikawinkan” dengan disiplin ilmu lainnya, sehingga muncullah komunikasi politik, komunikasi pembangunan, komunikasi lintas budaya, komunikasi pertanian, dan sebagainya.
Terjadinya kompetisi berbagai paradigma untuk merumuskan ilmu komunikasi bisa disebabkan oleh kompleksitas dan rumitnya kajian ilmu ini. Di samping itu, ilmu komunikasi juga masih sangat relatif muda dan belum mempunyai bangunan grand theory yang mantap sehingga memungkinkan banyak disiplin masuk untuk menangkap realitas komunikasi. Frank Dance melihat bahwa disiplin ilmu komunikasi tidak mempunyai Grand Theories dan sejumlah teori yang ada masih parsial dan partikularistik. Beberapa alasan yang dikemukakan sebagai berikut:
a. Sifat prosesual komunikasi yang menyulitkan prediksi;
b. Sifat komunikasi yang hadir di mana-mana yang membuat penjelasan menjadi sulit;
c. Fakta bahwa komunikasi adalah instrumen dan obyek studi;
d. Kekakuan dan pelecehan yang berasal dari perdebatan paradigmatik;
e. Persaingan antara disiplin-disiplin yang berkaitan.

1. Sosiologi
Sebagaimana dalam perkembangan ilmu alam, ilmu sosial juga berusaha untuk mensinergikan antara apa yang diamati di lapangan penelitian dan konstruksi teori sosial tentang hal yang hendak diteliti. Statistika adalah ilmu yang paling sering digunakan untuk melakukan berbagai hal yang mungkin diukur dalam sistem sosial. Cara untuk membandingkan konstruksi teori sosial tersebut dengan apa yang diperoleh di lapangan adalah dengan membangun model. Pada dasarnya konstruksi teori sosial dapat secara sederhana disebut sebagai model dari proses sosial yang diamati.
Namun memodelkan sebuah sistem sosial bukanlah pekerjaan mudah. Hal ini didasarkan pada dua hal. Pertama, interaksi kompleks yang terlibat dalam sistem sosial berarti bahwa hasil dari pemodelan tersebut sulit untuk dianalisis dengan menggunakan pendekatan biasa (kompleksitas sintaktik). Kedua, karakteristik dari fenomena sosial seringkali lebih baik didekati dengan representasi semantik alias pendekatan secara kualitatif biasa. Persoalannya adalah hal ini sangat sulit untuk diterjemahkan dalam metode formal, sehingga mengakibatkan kesulitan melakukan pengecekan dengan teori yang sudah ada selama ini.
Menurut penyunting artikel dalam situs “Wikipedia bebas berbahasa Indonesia” pokok bahasan sosiologi meliputi beberapa hal, di antaranya sebagai berikut:
a. Fakta sosial
Fakta sosial adalah cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang berada di luar individu dan mempunya kekuatan memaksa dan mengendalikan individu tersebut. Contoh, di sekolah seorang murid diwajidkan untuk datang tepat waktu, menggunakan seragam, dan bersikap hormat kepada guru. Kewajiban-kewajiban tersebut dituangkan ke dalam sebuah aturan dan memiliki sanksi tertentu jika dilanggar. Dari contoh tersebut bisa dilihat adanya cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang ada di luar individu (sekolah), yang bersifat memaksa dan mengendalikan individu (murid).
b. Tindakan sosial
Tindakan sosial adalah suatu tindakan yang dilakukan dengan mempertimbangkan perilaku orang lain. Contoh, menanam bunga untuk kesenangan pribadi bukan merupakan tindakan sosial, tetapi menanam bunga untuk diikutsertakan dalam sebuah lomba sehingga mendapat perhatian orang lain, merupakan tindakan sosial.
c. Khayalan sosiologis
Khayalan sosiologis diperlukan untuk dapat memahami apa yang terjadi di masyarakat maupun yang ada dalam diri manusia. Menurut Wright Mills, dengan khayalan sosiologi, kita mampu memahami sejarah masyarakat, riwayat hidup pribadi, dan hubungan antara keduanya. Alat untuk melakukan khayalan sosiologis adalah troubles dan issues. Troubles adalah permasalahan pribadi individu dan merupakan ancaman terhadap nilai-nilai pribadi. Issues merupakan hal yang ada di luar jangkauan kehidupan pribadi individu. Contoh, jika suatu daerah hanya memiliki satu orang yang menganggur, maka pengangguran itu adalah trouble. Masalah individual ini pemecahannya bisa lewat peningkatan keterampilan pribadi. Sementara jika di kota tersebut ada 12 juta penduduk yang menganggur dari 18 juta jiwa yang ada, maka pengangguran tersebut merupakan isu, yang pemecahannya menuntut kajian lebih luas lagi.
d. Realitas sosial
Seorang sosiolog harus bisa menyingkap berbagai tabir dan mengungkap tiap helai tabir menjadi suatu realitas yang tidak terduga. Syaratnya, sosiolog tersebut harus mengikuti aturan-aturan ilmiah dan melakukan pembuktian secara ilmiah dan obyektif dengan pengendalian prasangka pribadi, dan pengamatan tabir secara jeli serta menghindari penilaian normatif.
Jika dikaitkan dengan berbagai hal dalam kajian ilmu komunikasi, maka akan nyata terlihat beberapa pokok bahasannya selalu berkaitan. Sebagaimana yang telah dikemukakan pada bahagian terdahulu bahwa pokok bahasan komunikasi adalah manusia dan bahasa yang digunakannya baik yang bersifat verbal maupun non-verbal. Dengan demikian, fenomena sosial menjadi persamaan kajian di antara keduanya. Juga sebagaimana yang telah dikemukakan pada bahagian sebelumnya bahwa pengkajian komunikasi tidak bisa dilepaskan dari ilmu-ilmu sosial yang mengitarinya. Bahwa sosiologi merupakan kajian atau disiplin ilmu yang mengitarinya. Sehingga untuk beberapa lama dalam masa awal perkembangan ilmu komunikasi, justru yang mengembangkannya adalah tokoh-tokoh dari ilmu yang mengitari ilmu komunikasi ini. Tokoh-tokoh dalam bidang sosiologi yang turut serta mengembangkan ilmu komunikasi di antaranya dapat disebutkan nama-nama seperti Paul F. Lazarsfeld yang semula ahli dalam bidang matematika kemudian beralih ke bidang sosiologi dan Everett M. Rogers yang meguasai sosiologi pedesaan.

2. Antropologi
Budaya dan tradisi sering dianggap sebagai penyebab kita berlaku tidak assertif, atau “nrimo” dalam berkomunikasi. Sering kita dididik untuk tidak membantah, tidak mau berdebat, tidak boleh menatap muka orang jika berbicara, dan tidak menunjukkan emosi kita. Sikap demikian dianggap sebagai sikap hormat seseorang kepada yang lebih tua, yang lebih dihormati. Sikap agresif juga bisa diwarnai oleh budaya, oleh kebiasaan dan tradisi, namun sebenarnya dengan pengenalan dan pendidikan yang benar, sikap agresif itu akan dapat dibenahi untuk menjadi assertif atau lugas. Perilaku yang lugas atau assertif menunjang prospek karier karena pola kebiasaan mengacu kepada sikap percaya diri yang sehat, membangun sikap dan berfikir positif, menghilangkan prasangka buruk, menanamkan perhargaan dan pengakuan akan prestasi orang lain dan prestasi kita, dan meningkatkan kemampuan komunikasi secara efektif.

3. Manajemen
Hubungan yang sangat jelas terlihat antara komunikasi dengan manajemen berada di dalam suatu organisasi. Manajemen seringkali mempunyai masalah tidak efektifnya komunikasi. Padahal komuniksai yang efektif sangat penting bagi para manajer. Hal ini terlihat, paling tidak, dalam dua lasan. Pertama, komunikasi adalah proses melalui mana fungsi-fungsi manajemen perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan dapat dicapai. Kedua, komunikasi adalah kegiatan untuk mana para manajer mencurahkan sebagian besar proporsi waktu mereka.
Proses komunikasi memungkinkan manajer untuk melaksanakan tugas-tugas mereka. Informasi harus dikomunikasikan kepada para manajer agar mereka mempunyai dasar perencanaan, rencana-rencana harus dikomunikasikan kepada pihak lainnya agar dilaksanakan. Demikian juga pengorganisasian memerlukan komunikasi dengan bawahan tentang penugasan jabatan mereka. Pengarahan mengharuskan manajer untuk berkomunikasi dengan bawahannya agar tujuan kelompok dapat dicapai. Komunikasi verbal dan non-verbal adalah bagian esensi pengawasan. Jadi, manajer dapat melaksanakan fungsifungsi manajemen mereka hanya melalui interaksi dan komunikasi dengan pihak lain.
Di samping itu, bagian terbesar dari waktu manajerial dicurahkan untuk kegiatan komunikasi. Jarang sekali manajer yang bekerja di belakang meja sendiri. Dalam kenyataannya, waktu manajerial dihabiskan untuk komunikasi tatap muka atau melalui telepon dengan bawahan, rekan sejawat, penyelia, penyedia atau langganan.

4. Psikologi
Sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa bangunan ilmu komunikasi juga mengadopsi metode atau pendekatan dari kajian psikologi. Salah seorang tokoh yang memiliki keahlian di bidang psikologi dan mengembangkannya ke dalam perspektif komunikasi adalah Carl I. Hovland.
Hubungan yang sangat jelas terlihat antara psikologi dan komunikasi adalah pada proses komunikasi itu sendiri. Proses komunikasi dalam perspektif psikologi terjadi pada komunikator ketika ia melakukan penyandian (encoding) pesan dan pada komunikan tatkala ia melakukan peng-awa-sandian (decoding) pesan yang ia terima dari komunikator tadi.
Komunikasi tidak berdiri sendiri, bagaimana seseorang berkomunikasi, gaya orang berkomunikasi sangat tergantung dari pikiran, emosi, dan perilakunya, yaitu faktor-faktor psikologik bagaimana orang melihat citra dirinya, citra pihak lain, kondisi fisik, mental, dan suasana hatinya pada saat berkomunikasi. Oleh karena itu tantangan mengembangkan suatu pola dan iklim komunikasi dalam suatu lingkungan organisasi, tidak terbatas pada penguasaan kata-kata, gerak langkah dan perbuatan, ekspresi wajah dan bahasa tubuh saja. Tantangan yang besar justru datang dari cara berpikir, keyakinan, emosi, dan perilaku yang tepat untuk suatu budaya dan lingkungan kerja suatu organisasi atau unit kerja.
Para pakar psikologi menyederhanakan konsep komunikasi yang dilatarbelakangi gaya komunikasi ini dengan pembagian: agresif, assertif, dan non-assertif. Mereka yang tergolong berkomunikasi dengan gaya agresif melakukan komunikasi dengan terlalu cepat, terlalu aktif, dominan, kasar cenderung merebut hak orang lain. Sebaliknya mereka yang termasuk non-assertif berkomunikasi dengan gaya terlalu pasif, terlalu mengalah, sulit menyatakan “tidak”, sulit mengungkapkan isi hatinya secara jujur dan lugas, sulit menolak, sulit membantah, dan cenderung direbut hak perorangannya. Sedangkan di antara mereka, ada gaya berkomunikasi yang lugas atau assertif, yaitu mereka yang dapat menjewantahkan percaya diri sehingga berani dan lugas dalam mengungkapkan keyakinan, tabah dalam mempertahankan pendapatnya, dan sehingga positif dalam berkomunikasi.

5. Ekonomi
Gary H. Stern dalam tulisannya “Do We Know Enough about Economic?" menyebutkan bahwa pemahaman ilmu ekonomi adalah pengetahuan yang vital bagi semua orang terutama orang muda. Sama vitalnya seperti kemampuan baca-tulis. Majalah Region yang diterbitkan oleh Federal Reserve Bank of Minneapolis berpendapat bahwa pengertian ekonomi sangat penting dan perlu disebarluaskan kepada semua orang. Pertama, sangat sedikit yang memahami pentingnya peranan Bank Sentral (Federal Reserve) dalam kebijaksanaan moneter yang begitu luas dampaknya bagi kehidupan masyarakat, serta pengertian mengenai peraturan perbankan dan pelayanan lembaga-lembaga keuangan. Kedua, yang mungkin lebih penting lagi ialah bahwa "melek-ekonomi" merupakan tolok ukur seberapa jauh orang menyadari tentang adanya kekuatan yang sangat berpengaruh terhadap kualitas hidup masyarakat.
Tentu saja penyampaian pesan-pesan ekonomi--tidak bisa tidak—adalah dengan berkomunikasi. Demikian juga dalam penyampaian pesan-pesan lainnya. Kurt Lewin yang dikenal dengan konsep “gatekeeping” nya, yakni proses pengendalian arus pesan dalam saluran komunikasi selama Perang Dunia II pemerintah Amerika Serikat mempropagandakan makanan yang disebut “sweetbread” (isi organ sapi atau kambing, seperti hati, usus, limpa, dan sebagainya) untuk dijadikan konsumsi masyarakat.
Lewin dan murid-muridnya melakukan serangkaian penelitian dengan penduduk kota di Iowa Amerika Serikat sebagai responden. Kepada mereka diajukan himbauan agar memakan sweetbeard tadi. Hasil eksperimen itu menunjukkan bahwa para ibu rumah tangga ternyata bertindak sebagai gatekeeper (penjaga gerbang informasi) mengenai makanan yang tidak populer itu.
Dari penelitian di atas dapat dikemukakan bahwa dalam hal ekonomi, seperti mempromosikan sesuatu produk tidak bisa tidak harus menggunakan komunikasi. Komunikasi begitu penting, bukan saja di dalam ekonomi rumah tangga, tetapi juga bahkan di atasnya. Promosi produk-produk suatu daerah atau negara ke daerah lain atau ke negara lain harus menggunakan diplomasi yang baik. Penggunaan diplomasi berarti memainkan peran sebagai seorang komunikator.
Jika pada masa Perang Dunia I dan II propaganda dijadikan sebagai alat untuk menakut-nakuti musuh, sehingga lebih bersifat koersif, justru pada era modern seperti sekarang ini propaganda diarahkan sebagai media periklanan, mempromosikan produk-produk barang maupun jasa yang akan dijual kepada konsumen. Propaganda sudah menjadi media promosi.
Dari uraian di atas, jelaslah bahwa ada hubungan yang signifikan antara komunikasi dengan ekonomi. Demikian juga hubungan antara komunikasi Islam dengan ekonomi dapat dilihat sebagaimana penjelasan di atas. Tentu saja komunikasi Islam berprinsip kepada Alquran dan Hadis Nabi Saw.
Dalam komunikasi Islam, mempromosikan suatu produk bukan berarti monopoli. Monopoli sebagai upaya menjatuhkan pebisnis lainnya dengan cara menimbun atau menumpuk harta sejenis, atau memborong suatu produk untuk tujuan membuat harga sesukanya, dan praktek lainnya yang tidak sesuai ajaran Islam tidaklah diperbolehkan. Bahkan komunikasi Islam menghendaki transparansi yang sejujurnya, sebagaimana praktek Nabi Saw. yang menunjukkan barang-barang atau produk yang kurang berkualitas dan yang berkualitas. Demikian juga bahwa Nabi Saw. memberdakan harga yang baik kualitasnya dengan yang sudah rusak atau cacat, tidak mencampuradukkannya. Inilah di antara praktek-praktek komunikasi Islam dalam hubungannya dengan ekonomi.

6. Dakwah
Ada pertanyaan mendasar yang harus dikemukakan sebelum kita melihat hubungan ilmu komunikasi Islam dengan dakwah, yaitu apakah komunikasi Islam sama dengan dakwah? Jawaban yang berkembang ada dua pandangan. Pertama, pandangan yang mengatakan bahwa komunikasi Islam sama dengan dakwah. Misalnya Toto Tasmara menyebutkan: “Kalau diperhatikan secara seksama dan mendalam, maka pengertian dakwah itu tidak lain adalah komunikasi”. Tetapi ia kemudian menyebut, hanya saja yang secara khas dibedakan dari bentuk komunikasi yang lainnya, terletak pada cara dan tujuan yang akan dicapai. Tujuan dari komunikasi mengharapkan adanya partisipasi dari komunikan atas ide-ide atau pesan-pesan yang disampaikan tersebut terjadilah perubahan sikap dan tingkah laku yang di harapkan. Di dalam dakwah demikian juga.
“Ciri khas yang membedakannya adalah terletak pada pendekatannya yang dilakukan secara persuasive, dan juga tujuannya yaitu mengharapkan terjadinya perubahan/pembentukan sikap dan tingkah laku sesuai dengan ajaran-ajaran agama Islam. Atas dasar ini dapat kita katakan bahwa dakwah itu adalah juga merupakan suatu proses komunikasi, tetapi tidak semua proses komunikasi merupakan proses dawkah. Dengan demikian, dakwah itu merupakan suatu bentuk komunikasi yang khas yang dapat dibedakan dari bentuk komunikasi lainnya di dalam beberapa hal sebagai berikut: 1) Siapakah pelakunya (Komunikator); 2) Apakah pesn-pesannya (Message); 3) Bagaimanakah caranya (Approach); dan 4) Apakah tujuannya (Destination)”.

Di samping itu, ada pendapat yang mengemukakan bahwa komunikasi dengan dakwah sangat berbeda. Pada periode tahun 1998-1999 di kalangan senat Omdurman Islamic University (OIU) Sudan terjadi kontroversi seputar penamaan salah satu fakultasnya, yaitu Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Hingga akhirnya, karena dakwah merupakan bagian dari komunikasi, maka diganti menjadi Fakultas Komunikasi saja. Perbedaan ini mereka lihat terletak pada job masing-masing. Dakwah merupakan isi (content) dari komunikasi, sehingga ia juga merupakan suatu metode atau tipe tersendiri dari komunikasi, sedangkan komunikasi itu sendiri adalah suatu proses. Sekalipun keduanya satu sama lain berbeda, namun memiliki hubungan yang sangat erat. Dakwah merupakan bangunan besar dari komunikasi. Dengan demikian, dakwah tidak bersinonim dengan komunikasi, melainkan merupakan bagian dari komunikasi Islam.
Berdasarkan uraian-uraian tersebut di atas, penulis lebih cenderung membedakan antara komunikasi Islam dengan dakwah. Komunikasi Islam merupakan induk dari dakwah. Salah satu bentuk komunikasi Islam adalah dakwah. Dakwah secara spesifik berbicara mengenai seruan kepada Islam. Sedangkan komunikasi Islam tidak saja menyeru kepada Islam, tetapi membingkai komunikasi yang sesuai dengan ajaran Islam secara lebih luas. Jika boleh dikatakan, tujuannya sangat jelas berbeda. Komunikasi Islam tidak seluruhnya bertujuan untuk mengajak orang kepada Islam, tetapi di dalamnya ada bagian tertentu yang membicarakan itu, yaitu dakwah. Kendati demikian, komunikasi Islam jelas mengajak orang menyampaikan pesan (message) berdasarkan prinsip-prinsip yang diajarkan oleh Islam, yakni berdasarkan Alquran dan Sunnah Nabi Sw.). Jadi, dengan demikian, dakwah merupakan bagian dari komunikasi Islam.
Hubungan yang paling jelas terlihat nanti adalah ketika berbicara mengenai metode keduanya. Satu sama lain tentu saja saling mengatakan bahwa ini metode komunikasi, bahwa ini metode dakwah. Hal itu memang akan terjadi, karena keduanya didasarkan pada Alquran dan Hadis Nabi Saw. Misalnya di dalam komunikasi Islam bahwa metode yang dikutip adalah dari Qs. An-Nahl, ayat 125, metode dakwah juga menggunakannya. Dengan demikian, antara dakwah dan komunikasi memang saling berhubungan satu dengan lainnya. Ketika berbicara mengenai konsep penyiaran Islam, maka yang dibicarakan adalah dakwah, sekaligus komunikasi Islam, sebab penyampaian pesan sebenarnya adalah kajian komunikasi.
Dalam kenyataannya juga terlihat bahwa seorang da’i (jika diartikan sebagai seorang muballigh) adalah juga sebagai seorang komunikator Islam. Seorang muballigh karena mengambil prinsip-prinsip komunikasi dalam menyampaikan pesannya kepada audiens, maka ia disebut seorang komuniktor. Satu hal yang tentu saja sangat berbeda, yaitu ketika yang menjadi komunikator bukan seorang Muslim, tetapi karena ia menggunakan prinsip-prinsip berkomunikasi menurut ketentuan Islam, maka sebenarnya ia telah mempraktekkan Komunikasi Islam. Ini sangat berbeda dengan ketika seorang non-Muslim menyampaikan ajaran Islam, sekalipun itu benar adanya, maka ia tidak akan pernah disebut sebagai da’i atau muballigh.
Dengan demikian, kendati antara Komunikasi Islam dengan dakwah saling berhubungan, tetapi perbedaan di antara keduanya tetap ada, sehingga antara keduanya tidak bisa dikatakan sama.

(Disadur dari Tesis yang berjudul: "Analisis Landasan Keilmuan Komunikasi Islam" oleh Hasnun Jauhari Ritonga

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar