Selasa, 25 Mei 2010

Aksiologi Kamunikasi Islam

LANDASAN AKSIOLOGIS KOMUNIKASI ISLAM
Oleh Hasnun Jauhari Ritonga
Staf Pengajar Fakultas Dakwah IAIN Sumatera Utara
(S.1 Manajemen Dakwah dan S.2 Komunikasi Islam IAIN Sumatera Utara)


Abstraksi

Aksiologi Komunikasi Islam merupakan landasan filosofis bagi bangunan urutan nilai kegunaan ilmu komunikasi Islam dan merupakan salah satu unsur filosofis keilmuan yang bernilai sangat vital dalam membangun konstruksi ilmu komunikasi Islam. Di dalam Islam, pada prinsipnya semua ilmu, termasuk ilmu komunikasi Islam, diharapkan dapat dijadikan sebagai alat untuk mendekatkan diri kepada Allah, harus secara efektif dapat membantu mengembangkan masyarakat Islam dan merealisasikan tujuan-tujuannya, harus berguna bagi orang lain, dan dapat memecahkan berbagai problem masyarakat manusia. Dengan demikian, selama ilmu itu tidak menjadi alat bagi thaghut (selain-Allah atau anti-Allah), merupakan alat-alat pencerahan dan berguna bagi kemanusiaan.

Kata-Kata Kunci: Aksiologi, Komunikasi Islam, nilai.

I
Kata aksiologi berasal dari bahasa Yunani; axios dan logos. Axios artinya nilai atau sesuatu yang berharga; sedangkan logos artinya akal, teori. Secara literal, aksiologi berarti teori nilai.[1] Berbicara mengenai aksiologi berarti membicarakan tentang “nilai”.[2] Dengan demikian, aksiologi merupakan landasan filosofis bagi bangunan urutan nilai kegunaan ilmu komunikasi Islam dan merupakan salah satu unsur filosofis keilmuan yang bernilai sangat vital dalam membangun konstruksi ilmu komunikasi Islam. Aksiologi adalah asas mengenai cara bagaimana menggunakan ilmu pengetahuan yang secara epistemologis diperoleh dan disusun itu.[3] Untuk itulah, tanggung jawab ilmiah (intelektual) adalah sejauh mana ilmu pengetahuan melalui pendekatan, metode dan sistem yang dipergunakan itu mampu memperoleh kebenaran obyektif, baik secara koheren-idealistik, koresponden-realistik maupun secara pragmatik-empirik. Jadi, berdasarkan tanggung jawab ini, ilmu pengetahuan tidak dibenarkan untuk mengajarkan kebohongan, mengembangkan penelitian-penelitian semu dan bersikap saling menutup diri atau tidak terbuka bagi adanya kritik. Sedangkan tanggung jawab moral adalah—dengan berpangkal pokok bahwa ilmu pengetahuan adalah dari, oleh dan untuk manusia—untuk mengetahuai sejauh mana kebenaran obyektif itu dapat dimanfaatkan bagi kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia.[4]

II
Menurut Dr. Mahdi Ghulsyani, ada beberapa alasan perlunya mempelajari ilmu-ilmu lain, selain ilmu-ilmu agama, yaitu:[5]
1. Jika dengan ilmu itu diharapkan mencapai tujuan-tujuan Islam, maka mencarinya merupakan suatu kewajiban. Kewajiban di sini tentu saja bukan wajib ‘ain, tetapi wajib kifayah. Misalnya tentang ilmu kesehatan dan obat-obatan.
2. Alquran menghendaki kaum Muslimin tidak tergantung kepada orang-orang kafir, oleh karena itu ia harus mememiliki kemerdekaan kultur, politik, dan ekonomi (Qs. an-Nisā/4: 141). Dengan demikian, kaum Muslimin harus memiliki pengetahuan dan keterampilan di bidang tersebut. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah di dalam Alquran surat al-Anfāl/8: 60:
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).”

3. Alquran menyuruh manusia mempelajari dan merenungkan penciptaan, kejadian, hubungan kausalitas, kondisi-kondisi, dan tanda-tanda alam semesta seperti terdapat dalam:
- Qs. al-Baqarah/2: 164;
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.”

- Qs. Ali ‘Imrān/3: 190-191;
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”
“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

- Qs. Tā ha/20: 50 dan 53:

“Musa berkata: "Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.”
“Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan Yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-ja]an, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam.”

- Qs. al-‘Ankabūt/29: 20, 43 dan 49;
“Katakanlah: "Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.”
“Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.”

- Qs. Fāthir/35: 27-28;
“Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat.”
“Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

- Qs. Fushshilāt/41: 53:
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”

- Qs. Qaf/50: 6-8;
“Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun ?”
“Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata.”
“untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah).”

- Qs. adz-Dzariyāt/51: 20-21;
“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin.”
“dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”

- Qs. al-Mulk/67: 3-4;
“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?”
“Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.”

- Qs. al-Mursalāt/71: 5-20;
“dan (malaikat-malaikat) yang menyampaikan wahyu,
untuk menolak alasan-alasan atau memberi peringatan,
sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu itu pasti terjadi.
Maka apabila bintang-bintang telah dihapuskan,
dan apabila langit telah dibelah,
dan apabila gunung-gunung telah dihancurkan menjadi debu,
dan apabila rasul-rasul telah ditetapkan waktu (mereka).
(Niscaya dikatakan kepada mereka:) "Sampai hari apakah ditangguhkan (mengazab orang-orang kafir itu)?"
Sampai hari keputusan.
Dan tahukah kamu apakah hari keputusan itu?
Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.
Bukankah Kami telah membinasakan orang-orang yang dahulu?
Lalu Kami iringkan (azab Kami terhadap) mereka dengan (mengazab) orang-orang yang datang kemudian.
Demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berdosa.
Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.
Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina?”
- Qs. al-Ghasiyah/88: 17-20;
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan,
Dan langit, bagaimana ia ditinggikan?
Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan?
Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?”

4. Alasan lain untuk mempelajari fenomena-fenomena alam dan skema penciptaan adalah bahwa ilmu tentang hukum-hukum alam dan karakteristik-karakteristik benda-benda serta organisme-organisme dapat berguna bagi perbaikan kondisi hidup manusia. Sebagaimana terdapat dalam ayat-ayat berikut:
- Qs. al-Baqarah/2: 31:
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!"

- Qs. al-An’ām/6: 165;
“Katakanlah: " Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya)."

- Qs. an-Nahl/16: 12-16;
“Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (nya),
dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran.
Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.
Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk,
dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk.”

- Qs. Luqmān/31: 20;
“Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.”

- Qs. az-Zukhrūf/43: 12-13;
“Dan Yang menciptakan semua yang berpasang-pasangan dan menjadikan untukmu kapal dan binatang ternak yang kamu tunggangi.
Supaya kamu duduk di atas punggungnya kemudian kamu ingat nikmat Tuhanmu apabila kamu telah duduk di atasnya; dan supaya kamu mengucapkan: "Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya.”

- Qs. al-Jatsiyah/45: 13;
“Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.”

III
Setiap ilmu yang didapatkan hendaklah bermuara kepada tujuan eksistensi manusia itu sendiri. Allah Swt. menjelaskan bahwa tujuan penciptaan atau eksistensi manusia di muka ini adalah untuk mengabdi kepada-Nya (Qs. 51: 56; 98: 5), oleh karena itu semua urusan harus dikembalikan kepada-Nya juga (Qs. 42: 53). Demikianlah halnya dengan perolehan ilmu pengetahuan, suatu ilmu akan dikatakan berguna apabila dijadikan sebagai alat untuk mendapatkan pengetahuan tentang Allah, keridhaan dan kedekatan kepada-Nya. Jika tidak ilmu itu sendiri akan menjadi penghalang yang besar untuk pencapaian tujuan tersebut.
Berkaitan dengan pernyataan-pernyataan di atas, Ghulsyani mengemukakan beberapa hal yang harus diperhatikan agar ilmu memiliki kriteria yang berguna, yaitu:[6]
1. Ilmu itu harus dapat meningkatkan pengetahuannya akan Allah.
2. Ilmu itu harus secara efektif dapat membantu mengembangkan masyarakat Islam dan merealisasikan tujuan-tujuannya.
3. Ilmu yang dimiliki seseorang itu harus dapat membimbing orang lain.
4. Ilmu itu harus dapat memecahkan berbagai problem masyarakat manusia.
Sayyid Quthb ketika menafsirkan Qs. Fāthir/35: 16: “Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu)”, mengatakan bahwa ayat ini tidak mengemukakan secara spesifik menunjuk bentuk atau pokok masalah ilmu tertentu, tetapi ia bersifat umum. Dengan demikian, semua bentuk ilmu dianggap pemberian Allah, dan seorang manusia terdidik harus menyadari asal ilmunya dan menghadapkan wajahnya kepada Allah untuk bersyukur. Ilmu itu harus digunakan untuk meraih ridha Allah. Oleh karena itu, ilmu tak boleh menghalangi hubungan manusia dan Allah, karena Dia-lah yang memberinya. Ilmu yang memisahkan hati manusia dan Allah, tidak berarti apa-apa kecuali penyimpangan dan penyelewengan dari asalnya dan akan melupakan tujuannya. Dia tidak akan membawa kebahagiaan baik kepada pemiliknya maupun kepada orang lain, dan hanya menjadi sebab kekejaman, ketakutan, kecemasan dan kehancuran, karena ia telah tersesat arah, hilang arah, dan kehilangan jalannya menuju Allah.
Pada dasarnya seluruh ilmu, baik ilmu teologi maupun ilmu-ilmu kealaman merupakan alat untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan selama memerankan peranan ini, maka ilmu itu suci. Akan tetapi kesucian ini tidak intrinsik. Sebagaimana dikutip Ghulsyani pendapat Dr. Behesyti yang mengatakan bahwa setiap bidang ilmu, selama tidak menjadi alat di tangan thāghut (selain-Allah atau anti-Allah), merupakan alat-alat pencerahan; jika tidak, ilmu bisa juga menjadi alat kesesatan.[7] Dengan demikian, keragaman ilmu pengetahuan tidaklah asing satu sama lain. Hal ini disebabkan karena masing-masing memiliki jalannya sendiri, bahkan ilmu-ilmu itu merupakan penafsiran terhadap penciptaan alam seisinya.
Adanya pemilahan-pemilahan terhadap kategorisasi ilmu pengetahuan, yang wajib dipelajari oleh diri secara pribadi atau yang harus dipelajari oleh sekelompok orang Islam, ilmu agama atau non-agama, atau ilmu ushul atau furu’ , dan sebagainya akan menghambat perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri di dunia Islam. Terkadang suatu ilmu tidaklah secara jelas memiliki relevansi ke dalam kategorisasi yang disebutkan, tetapi ia bisa sangat berguna bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban manusia. Jika ini tetap disebut ilmu ini atau itu, maka apakah tidak akan menghambat orang lain untuk mempelajarinya. Atau jika suatu ilmu dikategorisasikan ke dalam kelompok tertentu, tentu saja akan terjadi ketidakseimbangan perkembangan ilmu tersebut; ada yang maju dengan pesat dan ada yang tidak menemukan identitasnya.
Andriansyah[8] malah lebih ke depan untuk melihat bahwa kecenderungan di satu pihak yang beranggapan bahwa sains yang benar adalah yang bersumber dari Alquran, atau sekurang-kurangnya punya kesesuaian dengan Alquran. Ini adalah klaim penolakan terhadap sekularisasi ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, sains yang dianggap benar adalah yang berakar dan tidak “bertentangan” dengan wahyu. Lalu, muncullah buku-buku yang mengulas keterkaitan sains tertentu dengan Alquran ataupun Hadis. Buku-buku tersebut bercorak geneologis. Artinya, berusaha mencari akar pengetahuan itu sampai kepada penemu di lingkungan Islam.

IV
Yang perlu dicatat, kemajuan peradaban Islam klasik tidaklah berdiri sendiri. Ia merupakan hasil interaksi yang dinamis dengan peradaban lain seperti Yunani, Mesir, Persia dan India. Tokoh-tokoh ilmuwan Islam masa itu sangat rajin berdialog dengan cara mempelajari peradaban lain. Kesan terbuka, toleran dan pluralis, amat menonjol dalam karakter ilmuwan Islam masa itu. Karakter tersebut jelas-jelas berseberangan dengan karakter kaum fundamentalis yang ingin memajukan Islam dengan jalan menutup diri dan bahkan berkonfrontasi.
Dalam literatur ilmuwan Islam masa silam, jarang sekali ditemukan tulisan-tulisan yang bernada menyerang atau membeda-bedakan diri dengan peradaban lain. Dalam ungkapan Hasan Hanafi, persoalan anâ (ego) dan al-âkhar (the other), bukanlah aspek pembedaan yang penting dalam ilmu pengetahuan. Yang paling menonjol justru semangat ekumenis dan persatuan. Orang-orang semacam al-Farabi dan Ibnu Sina selalu berupaya mendekatkan nabi-nabi besar dengan para filosof Yunani.
Kendati para filosof kenamaan dalam Islam berusaha mempertemukan pemikiran-pemikiran filosofis Yunani dengan pemikiran Islam tidak jarang ditemui batu sandungan, terutama dalam kaitannya dengan dogma-dogma yang ghaibi (bersifat abstrak). Bahkan pada Abad Pertengahan para rohaniawan Kristen juga mengalami hal yang pelik dalam mempertahankan dogma-dogma agama yang tidak sesuai dengan interpretasi akal dan ilmu pengetahuan. Sehingga dari situ muncullah ”Teologi Baru” (new theology) sebagai usaha mengkritisi dogma-dogma yang tidak masuk akal. Isu relasi agama dan rasio pada akhirnya menyebabkan seorang kristian, Fulton J. Sheen, dalam karyanya God and Intelligence in Modern Philosophy mengatakan bahwa pengingkaran terhadap akal adalah pengingkaran terhadap Tuhan yang kesempurnaan-Nya tidak terbatas, sebagaimana pengingkaran terhadap Tuhan yang kesempurnaan-Nya tak terbatas adalah pengingkaran terhadap akal; kedua hal tersebut tak mungkin terpisahkan.
Memang harus diakui bahwa para ilmuwan sekaliber Albert Einstein juga mengakui: ”Science without religion is lame, religion without science is blind”. Demikian juga Max Planck, pendiri Fisika Modern berkebangsaan Jerman, berkata bahwa siapa pun yang secara sungguh-sungguh telah terlibat dalam kerja ilmiah jenis apa pun juga, akan sadar bahwa di atas pintu gerbang memasuki kuil ilmu pengetahuan tertera kalimat: Engkau harus beriman. Ini adalah sifat yang tak dapat dilepaskan dari seorang ilmuwan.
Bagi Harun Yahya, ketika membahas tentang teori Evolusi milik Charles Darwin yang kemudian dikembangkan oleh pengikut-pengikutnya, bahkan muncul kelompok yang membentuk “Neo-Darwinisme” sebagai pendukung setia teori ini, bahwa agenda pelestarian teori Darwin sekalipun dengan berbagai bukti empiris dan sejarah tidak mampu mendukung kebenarannya adalah “meniadakan Tuhan sebagai Pencipta” dan menyuburkan paham Materialisme. Kesimpulan beliau bahwa teori Darwin adalah kebohongan yang memang sengaja dikembangkan untuk melestarikan paham-paham yang mendukung “Ketidakikutan campur tangan Tuhan dalam hal penciptaan”. Tuhan-lah yang menjadi Pencipta, itu tak terbantahkan. Jika diteliti dengan cermat, inilah kesimpulan yang ilmiah sepenuhnya. Ini bukanlah “keyakinan”, melainkan kebenaran yang diperoleh sebagai hasil pengamatan akan jagat raya dan makhluk hidup yang menghuninya. Karena itulah, pendapat evolusionis “Evolusi adalah ilmiah, sedangkan penciptaan adalah keyakinan di luar wilayah ilmu pengetahuan” merupakan tipuan yang dangkal. Memang, pada abad ke-19, materialisme dikacaukan dengan ilmu pengetahuan, dan ilmu pengetahuan terbawa ke luar jalur oleh dogma materialis. Namun, perkembangan selanjutnya, di abad ke-20 dan ke-21, telah sepenuhnya menggugurkan keyakinan kuno itu. Dan, kebenaran penciptaan, yang tadinya terhalang materialisme, kini pun tampak. Seperti jelas dinyatakan majalah terkenal Newsweek, dalam edisi 27 Juli 1998-nya yang bersejarah, dengan berita utama yang berjudul Science Finds God (Ilmu Pengetahuan Menemukan Tuhan) – di balik penipuan materialis, ilmu pengetahuan menemukan Tuhan, Pencipta alam semesta dengan segala sesuatu yang ada di dalamnya.[9]
Dengan pemikiran seperti itu, adalah menjadi tanggung jawab bagi setiap orang untuk menyebut dan membuktikan bahwa agama yang dianutnya sejalan dengan akal pikran dan ilmu pengetahuan. Kristen dan Islam dalam hal ini dapat dilihat secara paradoks. Di antara keduanya sangat berbeda. Dogma-dogma Kristen tidak dapat menjawab secara memuaskan akan kesesuaiannya dengan akal pikiran atau ilmu pengetahuan. Bertolak belakang dengan Islam bahwa perhatiannya terhadap pemanfaatan akal untuk penemuan ilmu pengetahuan merupakan kewajiban yang tidak bisa tidak harus terealisasi jika ingin mendapatkan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat kelak. Ayat yang pertama sekali turun adalah anjuran untuk membaca. Membaca (yang tersurat maupun yang tersirat) dengan menyandarkannya kepada pujian akan kemahakuasaan-Nya dalam mencipta (berkreasi).

V
Di dalam Islam akal (yang berada di kepala dan di hati: al-‘aql wa al-fu-ad) adalah alat yang digunakan manusia untuk mengaktualkan pikirannya. Dalam hal ini terlepas dari benar-salahnya hasil pemikiran manusia akan bermuara kepada 3 (tiga) kemungkinan.
Pertama, Rasional; di mana segala sesuatu yang sesuai dengan realita—dengan arti umum—dan sesuai dengan prinsip-prinsip logika manusia sehat. Dari kemungkinanan yang pertama ini melahirkan aliran Positivisme. Aliran Positivisme atau Rasionalisme dikenal dengan pemanfaatan akal dalam semua hal, termasuk dalam hal memahami hal-hal yang sifatnya doktriner atau dogmatis, diistilahkan dengan “ahl ar-ra’yu”. Dalam sejarah perkembangan pemikiran Islam, aliran ini bukan saja dianut oleh para filosof, tetapi juga para mutakallimin, fuqaha, sufi, dan mufassirin. Dalam ilmu tauhid disebut dengan aliran Qadariyah, sedangkan dalam kajian ilmu Kalam dan Fiqh dipelopori oleh aliran Mu’tazilah. Di dunia filsafat Islam itu sendiri dikenal seperti Ibn Rusyd dan Fakhrurrazi. Fakhrurrazi sendiri bahkan mengingkari adanya kenabian. Baginya tanpa melalui kenabianpun tetapi dengan pemanfaatan akal pikiran manusia saja sudah mampu menyerap “pesan-pesan Tuhan”.
Kedua, Ir-rasional; di mana segala sesuatu yang tidak sesuai dengan logika dan tidak sesuai pula dengan prinsip-prinsip logika manusia sehat. Biasanya kemungkinan kedua ini akan melahirkan aliran-aliran yang fundamentalis yang menerima semua ajaran keagamaan secara membabi buta tanpa harus mempergunakan akal sebagai alat memahami makna yang terkandung di dalam ajaran agama tersebut. Dalam kajian Ilmu Tauhid, di masa klasik—yang mungkin berakar hingga sekarang—telah memunculkan paham Jabariyah. Dalam kajian ilmu Tafsir orang-orang yang cenderung ir-rasional tidak menerima arti lain dari Alquran melainkan hanya arti literal saja. Bukan saja dalam hal-hal yang terkait dengan ayat-ayat tentang Tuhan, tetapi juga dalam penerapan hukum-hukum yang terkandung di dalamnya.
Ketiga, Supra-rasional; di mana segala sesuatu yang sesuai dengan realita akan tetapi penerapan logika manusia dalam menetapkannya belum didapat. Dengan kata lain bahwa hal tersebut bukan berarti masuk kategori tidak masuk akal (ir-rasional) akan tetapi karena keterbatasan akal maka ia tidak—atau belum—mampu menjangkaunya secaa argumentatif dan tidak menutup kemungkinan suatu saat kelak akal mampu menganalisanya dengan argumen yang logis sesuai dengan prinsip-prinsip dasar ilmu logika. Kemungkinan ketiga ini lebih cenderung untuk tidak membuat asumsi terhadap hal-hal yang di luar kemampuan akal pikirannya. Sangat berbeda dengan kemungkinan pertama di atas yang menjadi ukuran bagi penganutnya adalah kesesuaiannya dengan logika berpikir manusia. Dari kemungkinan ketiga ini memunculkan aliran-aliran yang ingin mengambil jalan tengah dalam berpikir, seperti dalam ilmu Tauhid muncul aliran Al-Asy’ariyah. Dalam penafsiran Alquran lebih cenderung untuk tidak menafsirkan ayat-ayat yang bernada antropo-centris, misalnya tidak menafsirkan “kekuasaan Allah” dari ayat yang mengatakan: “yadullah” atau ayat lainnya yang sejenis.
***


Daftar Catatan:

[1] Rizal Mustansyir & Misnal Munir, Filsafat Ilmu (Jakarta: Pustaka Pelajar: 2001), h. 26.
[2] Risieri Frondizi, Pengantar Filsafat Nilai (terj.) Cuk Ananta Wijaya (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), h. 1.
[3] Onong Uchjana Effendy, Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikas (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2000), h. 326.
[4] Suparlan Suhartono, Dasar-Dasar Filsafat (Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2004), h. 158.
[5] Mahdi Ghulsyani, Filsafat Sains Menurut Al-Quran (terj.) Agus Effendi (Bandung: Mizan, 1998), h. 49-53.
[6] Ibid, h. 55-56.
[7] Ghulsyani, Filsafat-Sains, h. 57.
[8] Andriansyah, Sains Islami atau Pseudo-Sains? dalam http://islamlib.com/id/ index.php? page= article&id=1271
[9] Harun Yahya, Runtuhnya Teori Evolusi Dalam 20 Pertanyaan (terj.) Aryani (www.idara.com atau www.islamic-books.com, 2003 dikutip penerjemah dari www.harunyahya.com dengan e-mail: info@harunyahya.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar