Selasa, 25 Mei 2010

Epistemologi Komunikasi Islam

LANDASAN EPISTEMOLOGI KOMUNIKASI ISLAM
Oleh Hasnun Jauhari Ritonga
Staf Pengajar Fakultas Dakwah IAIN Sumatera Utara
(S.1 Manajemen Dakwah dan S.2 Komunikasi Islam IAIN Sumatera Utara)

ABSTRAK
Epistemologi ilmu merupakan salah satu bagian filsafat yang mejadi bagian tak terpisahkan dalam membangun body of knowledge suatu bidang ilmu. Epistemologi membahas tentang proses terjadinya pengetahuan, sumber-sumber pengetahuan, asal mula munculnya pengetahuan, teori-teori kebenaran yang mendukung suatu pengetahuan, metode-metode ilmiah terkait dengan suatu ilmu, dan aliran-aliran teori pengetahuan.
Dalam ilmu Komunikasi Islam yang menjadi sumber keilmuannya sebenarnya sama dengan ilmu-ilmu dalam perspektif Islam lainnya, yakni bahwa ilmu itu diperoleh dari Alquran dan Sunnah, penelaahan alam semesta, pengkajian terhadap diri manusia (anfus), dan penjelajahan terhadap tarikh (sejarah) umat manusia. Sedangkan alat untuk memperoleh ilmu komunikasi Islam adalah dengan mengoptimalkan fungsi inderawi dalam mempersepsi sumber, melalui pemahaman akal atau qalbu, dan melalui pengetahuan wahyu atau ilham.
Hal ini berarti menunjukkan bahwa komunikasi Islam sesungguhnya mempunyai struktur keilmuan yang jelas dan konkrit sebagaimana halnya ilmu-ilmu lain. Jika ini bisa diterima, maka sebenarnya posisi ilmu komunikasi Islam berada pada wilayah tingkat kebenaran ilmu, bukan tingkat kebenaran agama. Oleh karena itu, Komunikasi Islam dapat dikatakan sebagai suatu disiplin ilmu.

Kata-Kata Kunci: Epistemologi, Komunikasi Islam, Kerangka Keilmuan, Sumber-sumber Pengetahuan.

Pendahuluan
Satu di antara tiga aspek filsafat dalam membangun kerangka keilmuan suatu disiplin ilmu adalah membicarakan epistemologi suatu ilmu. Pembahasan mengenai epistemologi ilmu adalah pengkajian terhadap terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, teori kebenaran, metode-metode ilmiah dan aliran-aliran teori pengetahuan.
Jika dirangkai lebih jauh, epistemologi ilmu sebenarnya muncul dari beberapa pertanyaan yang mendasar tentang pengetahuan. Plato memberikan batasan ke dalam beberapa pertanyaan mendasar yang memiliki keterkaitan langsung dengan pengetahuan, yaitu: Apa itu pengetahuan? Dimanakah pengetahuan itu diperoleh? Apa ukurannya agar pengetahuan itu dianggap benar-benar sebagai pengetahuan? Apakah inderawi menghasilkan pengetahuan? Dapatkah budi memberi pengetahuan? Apakah hubungan antara pengetahuan dengan keyakinan yang benar? Pertanyaan-pertanyaan inilah lebih lanjut dikembangkan oleh para pakar, sehingga epistemologi berfungsi sebagai pembangun kerangka sebuah disiplin ilmu yang pada perkembangan selanjutnya melahirkan dua pokok aliran, yaitu : Pertama, adalah aliran yang mengakui pentingnya peranan akal sebagai sumber ilmu pengetahuan. Aliran ini dikenal dengan aliran rasionalisme, karena cenderung mengabaikan peran empirisme. Sedangkan aliran yang kedua adalah aliran realisme atau emperisme yang lebih menekankan pada peran indera sebagai sumber sekaligus alat untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Harus diakui bahwa wacana Komunikasi Islam memang masih agak sunyi kendati sebenarnya sudah bermunculan program studi atau konsentrasi keilmuan Komunikasi Islam, seperti di PPs IAIN Sumatera Utara. Pun diakui masih cukup muda dibandingkan dengan Komunikasi konvensional yang sudah mapan dan dikenal luas selama ini. Komunikasi Islam sendiri baru mendapat perhatian lebih serius dibanding sebelumnya terutama setelah diterbitkannya buku seperti Communication Theory: The Asian Perspective oleh The Asian Mass Communication Research and Information Centre, Singapura, tahun 1988. Di samping itu, Mohd. Yusof Hussain, menulis dalam Media Asia tahun 1986 dengan judul Islamization of Communication Theory, dan pada bulan Januari 1993, jurnal Media. Culture and Society yang terbit di London juga memberi liputan kepada Komunikasi Islam.[1]
Perhatian terhadap Komunikasi Islam seperti di atas harus direspon secara positif dan hendaknya terus-menerus digalakkan pengkajian yang lebih serius, hingga pada akhirnya terbangun kerangka keilmuannya yang kokoh dan mapan. Berangkat dari kepentingan itu, tulisan ini akan melihat satu sisi tentang bagian tertentu dari bangunan keilmuan Komunikasi Islam, yaitu “Epistemologi Ilmu Komunikasi Islam”. Mudah-mudahan dapat memberikan sumbangsih bagi pembaca untuk kemudian menjadi motivasi mengembangkannya lebih lanjut.

Pengertian Epistemologi
Epistemologi diambil dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata, yaitu episteme yang berarti knowledge atau ilmu pengetahuan dan logos atau logy yang berarti theory. Dengan demikian secara etimologis, epistemologi dapat diartikan dengan theory of knowledge atau teori ilmu pengetahuan.[2]
Epistemologi disebut juga gnosiologi, logika material, criteriologi, dan filsafat pengetahuan.[3] Pada prinsipnya epistemologi adalah bagian filsafat yang membicarakan tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, teori kebenaran, metode-metode ilmiah dan aliran-aliran teori pengetahuan.[4] Dengan demikian, epistemologi dimaksudkan sebagai usaha untuk menafsir dan, di mana mungkin, membuktikan keyakinan kita bahwa kita mengetahui kenyataan yang lain dari diri sendiri.[5]
Sebenarnya asas atau prinsip komunikasi Islam telah diamalkan oleh Rasulullah Saw. dan para sahabat dalam kehidupannya dan ketika menyampaikan risalah. Sekiranya asas-asas tersebut dilaksanakan dengan tepat akan mempengaruhi tingkah laku semua umat Islam, termasuk secara khusus orang-orang yang berada dalam suatu organisasi. Kesan mendalam komunikasi itu telah terbukti sukses di mana Rasulullah Saw. telah berhasil mempengaruhi dan menguasai masyarakat Baduwi, sungguhpun pada mulanya mereka bersikap kasar, bengis dan biadab. Prinsip-prinsip tersebut di antaranya ialah : 1) berbicara dengan lemah lembut; 2) menggunakan perkataan yang baik-baik; 3) menggunakan hikmah dan nasihat yang baik; 4) menyesuaikan bahasa dan isi percakapan dengan tahap kecerdasan akal dan pandangan; 5) berdebat dengan cara yang lebih baik; 6) menyebut perkara yang penting berulang kali; dan 7) tidak bersikap ambivalen, artinya jika berkaitan dengan perintah memperbuat, maka sudah diperbuat terlebih dahulu, sedangkan jika berupa larangan, maka harus memang benar-benar ditinggalkannya.

Prinsip-Prinsip Epistemologi Islam
Dalam membahas epistemologi Islam atau yang juga disebut filsafat pengetahuan Islam dapat digunakan beberapa pendekatan, di antaranya pendekatan genetivus subyektivus dan genetivus obyektivus. Pendekataan genetivus subyektivus menempatkan Islam sebagai subyek (artinya Islam dijadikan sebagai titik tolak berpikir). Pada pendekatan ini menempatkan epistemologi sebagai bahan kajian. Sementara itu, pendekatan genetivus obyektivus menempatkan Islam sebagai obyek kajian (artinya Islam dijadikan sebagai bahan kajian dalam berpikir). Pada posisi ini epistemologi dijadikan sebagai titik tolak berpikir pada saat mengkaji Islam.[6]
Dari kedua pendekatan yang telah disebutkan di atas, pendekatan yang akan digunakan dalam pembahasan tesis ini pendekatan genetivus subyektivus. Beberapa alasan yang menjadi pertimbangan, di antaranya: (1) bahwa Islam sudah jelas sumbernya yaitu Alquran dan Sunnah yang kebenarannya mutlak tidak diragukan lagi oleh setiap Muslim sehingga kalaupun epistemologi digunakan tujuannya adalah untuk bagaimana cara memperoleh pengetahuan itu, bagaimana metodologi pengetahuan, bagaimana hakikat pengetahuan, dan sebagainya, yang menyangkut pengetahuan.
Apa yang dimaksud epistemologi Islam? Bagaimana posisi epistemologi Islam dalam epistemologi keilmuan umumnya? Miska Muhammad Amin mendefenisikan epistemologi sebagai usaha manusia untuk menelaah masalah-masalah obyektivitas, metodologi, sumber data validitas pengetahuan secara mendalam dengan menggunakan subyek Islam sebagai titik tolak berpikir.[7] Berdasarkan rumusan itu dipahami bahwa pada hakikatnya masalah-masalah yang dibahas epistemologi Islam sama dengan epistemologi pada umumnya. Kendati demikian, secara khusus epistemologi juga membahas wahyu dan ilham sebagai sumber pengetahuan, yang pembahasan itu tidak ditemukan pada epistemologi umum.
Al-Ghazali merupakan salah seorang pemikir Islam yang berupaya mengkaji epistemologi dalam perspektif Islam. Selama berbulan-bulan al-Ghazali merenungkan masalah ini, hingga akhirnya ia hampir putus asa. Di tengah keputusasaannya, al-Ghazali berakhir pada satu kesimpulan bahwa sekalipun kebenaran harus dicari, tetapi keterbatasan akal manusia harus diakuinya dan sentuhan cahaya Tuhan-lah yang sebenar-benarnya paling riil. Ini menandakan bahwa pengetahuan manusia tentang kebenaran bergantung sekali pada sesutau yang berada di luar nalar dan aturan-aturan penalaran. Sesuatu yang lebih tinggi daripada nalar sebagai alat penghubung dengan kenyataan, mesti ada pada manusia, dan meskipun akitivasinya bergantung pada bunga api ilahi, toh al-Ghazali sendiri mengakui pencari yang gigih akan tetap mampu mencapai pengetahuan tentang kenyataan dan tentang Tuhan.[8]
Paling tidak ada 5 (lima) prinsip utama epistemologi Islam, yaitu (1) prinsip tauhid; (2) ada realitas di luar pikiran manusia; (3) berpikir atau tidak, realitas tetap ada; (4) manusia dapat mengetahui realitas; dan (5) fenomena di dalam alam berkaitan secara kausal.[9]
Keterkaitannya dengan Komunikasi Islam dapat disebutkan bahwa ia dibangun berasaskan prinsip-prinsip yang ada. Di dalam Komunikasi Islam, karena ia bersumber dari Alquran dan Sunnah, maka ia memperpegangi prinsip ketauhidan. Bahwa berpikir bagi manusia hanyalah sebagai alat memahami sesuatu yang ada di luar pikiran itu sendiri. Artinya, sesuatu yang dipikirkan oleh manusia pastilah berada di luar pikiran manusia itu sendiri. Dipahami pula, bahwa sekalipun manusia berpikir atau tidak berpikir, realitas (kenyataan) tetap ada. Artinya, bukanlah karena manusia berpikir atau tidak berpikir penyebab sesuatu menjadi ada. Hal ini jelas bisa ditelusuri bahwa ketika Tuhan belum menciptakan Nabi Adam a.s. sebagai manusia pertama, Tuhan telah terlebih dahulu menciptakan surga, para malaikat, bahkan juga iblis. Artinya, jika pikiran hanyalah milik manusia, ternyata sebelum manusia ada, mahkluk lain juga sudah ada. Tetapi kemudian, dengan diajarkan-Nya nama-nama benda kepada Adam, maka manusia menjadi mengetahui dan berpikir untuk melestarikan atau bahkan merusaknya. Dengan demikian, berdasarkan petunjuk dan pemberitahuan dari Tuhan, manusia akan sampai pada kesimpulan bahwa ternyata di alam ini ada banyak hal yang terjadi secara kausalitas (hubungan sebab akibat). Ini artinya, jika berpikir begini dan memperbuat sesuatu secara begini baik sesuai dengan yang dipikirkan atau tidak sesuai dengan yang dipikirkan sangat boleh jadi akan mengakibatkan sesuatu pula. Dalam ilmu komunikasi, maka efek atau feedback menjadi akibat dari adanya proses komunikasi. Ada atau tidaknya feedback, sebenarnya sudah merupakan akibat dari adanya proses komunikasi yang dilakukan.

Aspek Epistemologi Islam
Pembahasan ilmu pengetahuan dalam Islam salah satu tinjauannya adalah aspek epistemologi. Walaupun pembahasan tersebut dalam literatur Islam tidak tersusun secara rapi dan tersendiri, kita dapat menemukan pembahasan itu dalam beberapa kajian filsafat seperti pembahasan yang berkaitan dengan nonmeterialnya ilmu, tingkatan-tingkatan ilmu, terbaginya ilmu ke dalam beberapa bagian, dan lain-lain.
Dari sisi epistemologi, kita bisa membahas ilmu pada aspek representifnya setelah kita membuktikan secara ontologis tentang keberadaan ilmu tersebut. Jadi, bisa dikatakan bahwa kajian epistemologi sebenarnya adalah pembahasan derajat kedua. Meskipun demikian, secara subtansial pembahasannya sangat berbeda dengan pembahasan ontologi.
Banyak filosof Islam mencurahkan segala kemampuan mereka untuk mengkaji pembahasan seputar epistemologi ini. Beberapa pandangan umum terhadap kajian epistemologi di dalam literatur Islam antara lain membahas tentang kategori, kesatuan antara subyek dengan obyek, wujud dzinni, konsep benar-salah, dan batasan kemampuan akal budi manusia.[10]
Pertama, pembahasan filosofis berkenaan dengan kategori. Realitas di alam ini oleh para filosof dibagi-bagi dalam beberapa kategori. Misalnya, manusia dan hewan dikategorikan sebagai makhluk hidup. Makhluk hidup dan makhluk tak hidup dikategorikan sebagai materi. Materi dan nonmateri dikategorikan sebagai substansi. Substansi inilah yang menempati kategori tertinggi (jins 'aly). Artinya, realitas di alam ini terbagi-bagi menjadi beberapa jins 'aly, antara lain, substansi, kualitas, madah (bahan materi), dan shūrah (bentuk). Dalam pembahasan kategori, para filosof melihat dan meninjau ilmu dari kaca mata ontologi. Jadi, salah satu dari sisi ilmu adalah sifat ontologisnya. Dari sudut pandang ini, mereka melihat ilmu sebagai salah satu fenomena yang ada dan nyata. Tapi, yang masih sering menjadi bahan pertanyaan adalah hal yang berkaitan dengan hakekat dan esensi ilmu tersebut. Kadang-kadang, seseorang mengetahui sesuatu ada di pikirannya sebagai fenomena yang ada di dalam dirinya. Akan tetapi, belum jelas baginya hakekat dan esensinya. Contohnya, kita telah mengetahui warna merah. Akan tetapi, pertanyaan yang mengarah kepada kita ialah apakah esensi dari warna merah itu?Apakah ia bersifat aksidensial ataukah subtansial? Apakah keberadaannya independen ataukah tidak? Berkaitan dengan pertanyaan yang mengarah pada hakekat dan esensi ilmu tadi, para filosof menjawab bahwa keberadaan ilmu merupakan bagian dari masalah aksidental bukan subtansial. Dengan kata lain, ilmu dikategorikan ke dalam kaif nafsani (kualitas yang ada pada jiwa, seperti keinginan, rasa sakit, kehendak, dan lain-lain). Ilmu yang masuk dalam bagian kaif nafsani tersebut adalah ilmu hushūli. Oleh karena itu, ilmu hushūli adalah sifat (aksidental) bagi jiwa (nafs).
Kedua, kesatuan subyek dan obyek. Masalah kesatuan obyek dan subyek pengetahuan adalah salah satu kajian filosofis yang pada awalnya dimunculkan oleh Fakhr Al-Razi. Akan tetapi, kajian ini mengalami perkembangan yang cukup pesat pada zaman Mulla Shadra. Dalam kitab monumentalnya, "Al-Asfar Al-Arba'ah", beliau menjelaskannya secara terperinci masalah-masalah yang berhubungan dengan tingkatan-tingkatan ilmu, pembagian ilmu kepada intuitif knowledge dan empirical, serta pembahasan tentang kesatuan obyek dan subyek pengetahuan.
Ketiga, wujud dzinni (wujud yang ada di dalam pikiran). Masalah wujud dzihni ini menjadi pembeda signifikan antara filosof dengan teolog (mutakallimin). Para teolog mengingkari masalah ini dengan memaparkan pendapat yang bertentangan dengan pendapat para filosof. Mereka memunculkan pandangan “idhafah” ataupun “syabah”. Menurut para filosof, pengingkaran terhadap masalah wujud dzihni ini akan menjadikan manusia sophistik. Yang menghubungkan antara understanding dan external hanyalah esensi. Bila ini diingkari maka tidak akan ada hubungan apapun di antara keduanya. Akibatnya, muncullah sophistika.
Keempat, salah satu dari masalah-masalah yang berhubungan dengan masalah understanding dan external adalah tolok ukur benar dan salah. Agar ilmu kita benar harus memiliki tolok ukur yang jelas. Dengannya, kita bisa terlepas dari belenggu sophistika. Sebenarnya tolok ukur suatu kebenaran itu dapat dilihat dari 3 (tiga) cara, yaitu dengan teori korespondensi, teori koherensi dan teori pragmatis.[11] Dari pembahasan tentang teori kebenaran ini akan dapat ditentukan apakah sesuatu itu hanya sekedar permainan bahasa, permainan akal budi manusia ataukah memang benar-benar ada. Sebagai orang yang beragama permasalahan ini menjadi sangat urgen, mengingat manusia sebenarnya dituntut mencari kebenaran agamanya. Untuk itu, manusia harus mempertanyakan di mana tolok ukur kebenaran agama, sebatas manakah asas-asas sesuatu agama, ataukah agama hanyalah buatan manusia yang sama sekali tidak memiliki tolok ukur kebenaran dan hakekat. Sebagai manusia yang berpikir, tidak boleh mendiamkan masalah ini berjalan begitu saja tanpa penyelesaian. Kajian terakhir ini disebut dengan epistemologi agama dan di dalamnya juga dibahas tentang dasar-dasar epistemologi agama. Ketika kita dapat membuktikan kebenaran agama maka dari situlah kita dapat membicarakan tentang pluralisme agama: apakah pluralisme agama itu benar ataukah tidak; di manakah letak benar dan salahnya pluralisme agama; dan selanjutnya.
Kelima, setelah selesai melakukan kritik terhadap sophistika dan telah dibuktikan kesalahan paham ini, kita akan memasuki permasalahan baru, yaitu batasan kemampuan akal budi manusia. Kita berpijak pada satu dasar yang pasti bahwa, di dalam diri manusia ada kecondongan dan keinginan rasa tahu terhadap sesuatu. Tetapi, apakah ia mampu untuk mengetahui segala macam yang ia inginkan ataukah tidak. Dari sinilah muncul beragam pandangan mengenai hal tersebut. Dengan kata lain, apakah manusia memiliki kemampuan untuk mengetahui apa saja yang ia inginkan ataukah tidak. Sebagian dari para filosof berpendapat bahwa kemampuan manusia hanya terbatas pada hal-hal material yang dapat ia indra dan bahasan metafisik keluar dari kemampuannya. Kaum gnostic berpendapat bahwa di alam ini ada hakekat yang akal budi manusia tidak akan sampai padanya. Para filosof muslim meyakini bahwa akal budi manusia mampu mengetahui hal-hal fisik ataupun metafisik, akan tetapi ketika berhadapan dengan masalah zat Tuhan mereka berhenti dan diam.
Dari beberapa pendapat yang ada di atas, ada pesan yang tersirat, yaitu bahwa ilmu manusia terbatas. “Satu dasar” tersebut adalah pijakan kita untuk memasuki ke dalam pembahasan-pembahsan selanjutnya. Dan jika kita ingin mengkaji dan menggali dasar tersebut, kita akan berhenti pada satu permasalahan baru yaitu intuitive knowledge (ilmu hudhuri). Oleh karena itu, penolakan terhadap realita seperti yang dilakukan sophistika sama sekali tidak benar dan keluar dari batas-batas akal karena pijakan kita adalah hal-hal yang kita rasakan di dalam diri kita.

Epistemologi Ilmu Komunikasi Islam
Sebelum dikemukakan epistemologi komunikasi Islam, terlebih dahulu dikemukakan beberapa gambaran konsep dasar tentang epistemologi secara umum dan dalam perspektif Islam. Pertama-tama akan dikemukakan tentang cara-cara memperoleh ilmu pengetahuan.
Di kalangan para pemikir, mulai dari masa Aristoteles hingga Freud atau dari zaman Yunani hingga zaman modern, telah terjadi perdebatan filosofis yang sengit di sekitar pengetahuan manusia. Salah satu perdebatan besar itu adalah diskusi yang mempersoalkan sumber-sumber dan asal-usul pengetahuan dengan meneliti, mempelajari dan mencoba mengungkapkan prinsip-prinsip primer kekuatan struktur pikiran yang dianugerahkan kepada manusia.[12] Mereka ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar: Bagaimana pengetahuan itu muncul dalam diri manusia? Bagaimana kehidupan intelektualnya tercipta, termasuk setiap pemikiran dan konsep-konsep (notions) yang muncul sejak dini? Dan apakah sumber yang memberikan kepada manusia arus pemikiran dan pengetahuan ini?
Dengan mengkritisi pendapat-pendapat pemikir yang mendiskusikan tentang sumber-sumber dan asal-usul pengetahuan manusia itu[13], Muhammad Baqir Ash-Shadr mencari argumen sendiri untuk memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan sebagimana di atas. Ia mengemukakan bahwa secara garis besar pengetahuan manusia itu di bagi menjadi dua, yaitu konsepsi (tashawwur) atau pengetahuan sederhana dan assent (tashdiq) atau pembenaran.[14]
Secara sederhana terjadinya pengetahuan berdasarkan a priori dan a parteriori. A priori maksudnya pengetahuan yang terjadi tanpa adanya atau melalui pengalaman, baik pengalaman inderawi maupun batin. Sedangkan a parteriori adalah pengetahuan yang terjadi karena adanya pengalaman. Adapun alat-alat untuk mengatahui terdiri dari (1) pengalaman indera (sense experinece); (2) nalar (reason); (3) otoritas (authority); (4) intuisi (intuition); (5) wahyu (revelation); (6) keyakinan (faith).[15] Dalam banyak ayat Alquran dikemukakan tentang berbagai cara meperoleh ilmu pengetahuan, yaitu melalui persepsi inderawi, melalui kalbu atau akal, dan lewat wahyu atau ilham.[16]
1. Pengetahuan indera.
2. Pengetahuan akal.
3. Pengetahuan wahyu atau ilham.
Sebagaimana dikemukakan oleh Jalaluddin Rahmat, Alquran menunjukkan empat sumber untuk memperoleh pengetahuan:[17]
1. Alquran dan Sunnah.
Ayat-ayat Alquran yang memberikan petunjuk tentang Alquran dan Sunnah sebagai sumber pengetahuan di antaranya adalah:
- Qs. Yūsuf/12: 1-3 dan 111;
Artinya: “Alif, laam, raa. Ini adalah ayat-ayat Kitab (Al Quran) yang nyata (dari Allah).” “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” “Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan) nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.”
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.”
- Qs. al-‘Ankabūt/29: 47-49;
Artinya: “Dan demikian (pulalah) Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran). Maka orang-orang yang telah kami berikan kepada mereka Al Kitab (Taurat) mereka beriman kepadanya (Al Quran); dan di antara mereka (orang-orang kafir Mekah) ada yang beriman kepadanya. Dan tiadalah yang mengingkari ayat-ayat kami selain orang-orang kafir.”
“Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Quran) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu).”
“Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.”
- Qs. Shād/38: 29;
Artinya: “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.”
- Qs. an-Nisā’/4: 82;
Artinya: “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.”
- Qs. az-Zumār/39: 23;
Artinya: “Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun.”
- Qs. Al-Hasyr/59: 7 dan 21;
Artinya: “Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.”
“Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.”
- Qs. al-Ahzāb/33: 21 dan 36;
Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.”

2. Alam semesta.
Ayat-ayat Alquran yang memberikan petunjuk tentang alam semesta sebagai sumber pengetahuan di antaranya adalah:
- Qs. al-An’ām/6: 141;
Artinya: “Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”
- Qs. ar-Ra’d/13: 2-5;
Artinya: “Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.”
“Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.”
“Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.”
“Dan jika (ada sesuatu) yang kamu herankan, maka yang patut mengherankan adalah ucapan mereka: "Apabila kami telah menjadi tanah, apakah kami sesungguhnya akan (dikembalikan) menjadi makhluk yang baru?" Orang-orang itulah yang kafir kepada Tuhannya; dan orang-orang itulah (yang dilekatkan) belenggu di lehernya; mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.”
- Qs. an-Nahl/16: 10-11; 14-18; 66, dan 68-69:
Artinya: “Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebahagiannya menjadi minuman dan sebahagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu.”
“Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan.”
“Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.”
Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk.”
“dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk.”
“Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa) ?. Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran.”
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
- Qs. al-Kahfi/18: 96;
Artinya: “Berilah aku potongan-potongan besi." Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulkarnain: "Tiuplah (api itu)." Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: "Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar aku kutuangkan ke atas besi panas itu."
- Qs. Tā ha/20: 53;
Artinya: “Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan Yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-ja]an, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam.”
- Qs. al-Anbiyā’/21: 30;
Artinya: “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?
- Qs. al-Mu’minūn/23: 12-14;
Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.”
“Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).”
“Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.”
- Qs. an-Nūr/24: 45;
Artinya: “Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
- Qs. Al-‘Ankabūt/29: 41;
Artinya: “Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.”
- Qs. ar-Rūm/30: 24 dan 48:
Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya.”
“Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira.”
- Qs. Luqmān/31: 10;
Artinya: “Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik.”
- Qs. Saba’/34: 10-12;
Artinya: “Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud kurnia dari Kami. (Kami berfirman): "Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud", dan Kami telah melunakkan besi untuknya.” “(yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah amalan yang saleh. Sesungguhnya Aku melihat apa yang kamu kerjakan.” “Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala.”
- Qs. Fāthir/35: 27-28;
Artinya: “Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat.”
“Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”
- Qs. az-Zumār/39: 21;
Artinya: “Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.”
- Qs. al-Jatsiyah/45:13:
Artinya: “Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.”
- Qs. Qaf/50: 6 dan 9-11;
Artinya: “Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun ?
“Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam.”
“dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun- susun.”
“untuk menjadi rezki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan.”
- Qs. an-Najm/53: 45-46;
Artinya: “dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita.”
” dari air mani, apabila dipancarkan.”
- Qs. al-Hadid/57: 25;
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.”
- Qs. al-Mulk/67: 19;
Artinya: “Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu.”
- Qs. Al-Insān/76: 2;
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.”
- Qs. at-Thāriq/86: 5;
Artinya: “Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan?”
Diri manusia (anfus).
Ayat-ayat Alquran yang memberikan petunjuk tentang diri manusia (anfus) semesta sebagai sumber pengetahuan di antaranya adalah:
- Qs. an-Nisā’/4: 36-37;
Artinya: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.”
“(yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan.”
- Qs. at-Taubah/9: 77;
Artinya: “Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga karena mereka selalu berdusta.”
- Qs. al-Isrā’/17: 11 dan 100;
Artinya: “Dan manusia mendoa untuk kejahatan sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.”
“Katakanlah: "Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya." Dan adalah manusia itu sangat kikir.”
- Qs. al-Anbiyā’/21: 37;
Artinya: “Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perIihatkan kepadamu tanda-tanda azab-Ku. Maka janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya dengan segera.”
- Qs. al-Hajj/22: 5;
Artinya: “Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.”
- Qs. asy-Syura/42: 49-50;
Artinya: “Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki.”
“atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.”
- Qs. Muhammad/47: 38;
Artinya: “Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang berkehendak (kepada-Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini.”
- Qs. al-Ma’arij/70: 21:
Artinya: “dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir”.
- Qs. al-Humazah/104: 1-3;
Artinya: “Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela,
yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung,
dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya.”

3. Tarikh umat manusia.
Ayat-ayat Alquran yang memberikan petunjuk tentang tarikh umat manusia semesta sebagai sumber pengetahuan di antaranya adalah:
- Qs. Yūsuf/12: 109;
Artinya: “Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya diantara penduduk negeri. Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan rasul) dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memikirkannya?”
- Qs. ar-Rūm/30: 9;
Artinya: “Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang sebelum mereka? orang-orang itu adalah lebihkuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri.”
- Qs. al-Mu’min/40: 21-22.
Artinya: “Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi, lalu memperhatikan betapa kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Mereka itu adalah lebih hebat kekuatannya daripada mereka dan (lebih banyak) bekas-bekas mereka di muka bumi, maka Allah mengazab mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan mereka tidak mempunyai seorang pelindung dari azab Allah.”
“Yang demiklan itu adalah karena telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata lalu mereka kafir; maka Allah mengazab mereka. Sesungguhnya Dia Maha Kuat lagi Maha Keras hukuman-Nya.”
Dengan demikian, paradigma Ilmu Komunikasi Islam berdasarkan kepada Al Qur'an dan Sunnah sebagai sumber inspirasi epistemologi ilmu komunikasi Islam dan penggabungannya terdapat pada studi tekstual dan studi kontekstual, yang meliputi alam semesta, diri manusia (anfus), dan tarikh umat manusia. Hal ini berarti bahwa kerangka keilmuan Komunikasi Islam dapat ditelusuri, meskipun sumber primer ilmu komunikasi Islam adalah Al Qur’an.[18] Dengan demikian, rumusan, gagasan dan rancangan epistemologi ilmu Komunikasi Islam adalah kreasi manusia. Berdasarkan paradigma ini maka muncul kategorisasi bahwa Komunikasi Islam tergolong ke dalam komunikasi teokrasi atau pun juga komunikasi religius (keagamaan).
Jika demikian halnya, maka dapatkan Komunikasi Islam dijadikan sebagai suatu ilmu? Pertanyaan ini layak diajukan, ketika Komunikasi Islam dimasukkan ke dalam komunikasi teokrasi atau komunikasi religius, sebab pastilah ia akan bersumber dari yang tidak bisa dijangkau secara utuh oleh rasionalitas manusia, melainkan melalui satu jalan yang harus diyakini yaitu adanya wahyu atau ilham.
Ada beberapa syarat, agar suatu disiplin ilmu dipandang mampu berdiri sendiri, yaitu: Memiliki objek tersendiri (yang dikaji oleh satu aspek dalam filsafat ilmu, yaitu ontologi), bersifat empiris, sistematis, universal, dapat diverifikasi dan mempuyai nilai guna bagi kehidupan manusia. Tanpa harus didahului oleh kecurigaan ataupun juga simpati yang berlebihan, Komunikasi Islam sebagai hasil pemikiran ilmiah manusia tentu bersifat dinamis dan tidak bisa terlepas dari pengujian terhadap tingkat kebenaran ilmu. Pemakaian kata Islam adalah merupakan ciri khas dari bentuk teori dan prinsip yang dibangun sesuai dengan tata nilai dan aturan, agar manusia menjalani hidupnya sesuai dengan aturan-aturan-Nya.
Di sisi lain, memang harus diakui adanya pendekatan-pendekatan yang harus ditempuh untuk melihat bahwa Komunikasi Islam benar sebagai suatu disiplin ilmu. Oleh karena itulah, kebasahan keilmuan komunikasi Islam dapat juga disejajarkan dengan bentuk analisis disiplin ilmu lainnya, seperti filsafat, psikologi, antropologi, sosiologi dan sejarah, karena ilmuan komunikasi Islam mempunyai kedekatan relasi kuasa antara teks dengan konteks yang berdasarkan data dan fakta. Namun harus disadari bahwa doktrin normatif Al-Qur'an tidak bisa digangu gugat dengan mereduksi ayat dalam rangka meyesuaikan dengan realitas yang ada, meskipun keilmuannya tetap pada wilayah dinamika ilmu.[19]
Dengan demikian, jelaslah bahwa ilmu komunikasi Islam sesungguhnya mempunyai struktur keilmuan yang jelas dan konkrit sebagaimana halnya ilmu-ilmu lain. Jika ini bisa diterima, maka sebenarnya posisi ilmu komunikasi Islam berada pada wilayah tingkat kebenaran ilmu, bukan tingkat kebenaran agama. Oleh karena itu, Komunikasi Islam dapat dikatakan sebagai suatu disiplin ilmu.

Penutup
Landasan epistemologi komunikasi Islam menjelaskan tentang usaha manusia untuk menelaah masalah-masalah obyektivitas, metodologi, sumber data validitas pengetahuan secara mendalam dengan menggunakan subyek Islam sebagai titik tolak berpikir. Penekanan pembahasan epistemologi adalah menelaah sumber-sumber ilmu komunikasi Islam dan dengan apa atau bagaimana mendapatkannya.
Adapun sumber-sumber ilmu komunikasi Islam sama dengan ilmu-ilmu dalam perspektif Islam lainnya, yakni bahwa ilmu itu diperoleh dari Alquran dan Sunnah, penelaahan alam semesta, pengkajian terhadap diri manusia (anfus), dan penjelajahan terhadap tarikh (sejarah) umat manusia. Sedangkan alat untuk memperoleh ilmu komunikasi Islam adalah dengan mengoptimalkan fungsi inderawi dalam mempersepsi sumber, melalui pemahaman akal atau qalbu, dan melalui pengetahuan wahyu atau ilham. Khusus mengenai alat wahyu atau ilham ini tidak ditemukan sebagai alat pada komunikasi konvensional. Ia hanya dimiliki oleh epistemologi komunikasi Islam.

Catatan:
[1] Syukur Kholil, “Komunikasi dalam Perspektif Islam”, dalam Hasan Asari & Amroeni Drajat (ed.) Antologi Kajian Islam (Bandung: Cita Pustaka Media, 2004), h. 251.
[2] Dick Hartono, Kamus Populer Filsafat (Jakarta: Rajawali Press, 1986), h. 23.
[3] Sudarsono, Ilmu Filsafat: Suatu Pengantar (Jakarta: Rineka Cipta, 2001), h. 137.
[4] Ibid.
[5] Kenneth T. Gallagher, Epistemologi Ilmu: Filsafat Pengetahuan (disadur oleh) P. Hardono Hadi (Yogyakarta: Kanisius, 1994), h. 53.
[6] Miska Muhammad Amien, Epistemologi Islam: Filsafat Pengetahuan Islam (UI-Press, 1983), h. 10.
[7] Ibid.
[8] Jalaluddin Rakhmat, Islam Alternatif: Ceramah-Ceramah di Kampus (Bandung: Mizan, 1999), h. 182.
[9] Ibid, h. 183-188.
[10] www.msn.com/http://www.hizbi.net//Senin, 3 September 2007
[11] Roy Wood Sellars, Critical Realism: A Study of tha Nature and Conditions of Knowledge (New York: Russel & Russel, 1969), h. 255.
[12] Sayyid al-Islam Ayatullah al-`Uzma as-Sayyid Muhammad Baqir Ash-Shadr, Falsafatuna (terj.) M. Nur Mufid bin Ali (Bandung: Mizan, 1995), h. 25.
[13] Kritik yang disampaikan oleh Muhammad Baqir Ash-Shadr dapat ditelusuri secara lebih mendalam di dalam bukunya Falsafatuna, h. 65-106.
[14] Ibid.
[15] Sudarsono, Ilmu Filsafat, h. 138.
[16] Rakhmat, Islam Alternatif, h. 206.
[17] Ibid, h. 203-205.
[18]A. Muis. Komunikasi Islam (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001), h. 65.
[19] Andy Dermawan, dkk (ed). Metodologi Ilmu Dakwah (Yogyakarta: LESFI, 2002), h. 67.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar